PROPOSAL PELATIHAN PLASTISIN (Clay)

KATA PENGANTAR

Pendidikan merupakan langkah awal yang harus dilakukan sebuah negara, jika ingin maju di bidang ekonomi. Tidak ada negara yang maju perekonomiannya hanya berdasarkan kekayaan alam. Penyelenggaraan pendidikan luar sekolah baik yang di laksanakan pemerintah maupun masyarakat telah mengalami perkembangan yang begitu pesat, khususnya di Wilayah DKI Jakarta. Peningkatan kemajuan tersebut menunjukan bahwa tingkat kesadaran masyarakat terhadap pentingnya arti pendidikan telah merata disemua lapisan masyarakat.

Menyadari haltersebut diatas maka Jurusan Pendidikan Luar Sekolah UNJ selalu berupaya menggali dan menggerakan partisipasi masyarakat melalui berbagai kegiatan pendidikan dan kursus-kursus keterampilan. Salah satu kegiatan pelatihan tersebut adalah pelatihan Membuat Hiasan Dari Plastisin.

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Dengan kondisi ekonomi yang sangat memprihatinkan, masyarakat perlu adanya perubahan sikap dalam menghadapinya. Dan masayarakat perlu menyadari banyak peluang besar untuk mencari solusinya, seperti pengembangan budaya kewirausahaan dalam mengembangkan home industri. Dengan pengembangan budaya kewirausahaan dapat meningkatkan taraf keejahteraan sosial secara mandiri dan perlunya kesadaran bahwa perubahan nasib dan peningkatan taraf kesejahteraan sosial tergantung dari diri masyarakat itu sendiri.

Home industri sekarang ini sudah menjadi solusi dalam menghadapi krisis ekonomi. Selain itu juga menjadi penyaluran hoby masyarakat. Awal dari hoby dapat berkembang menjadi usaha kecil bahkan besar. Melalui keterampilan tangan, hasilnya akan menjadikan nilai uang. Hal tersebut sanagt membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Plastisin merupakan salah satu keterampilan tangan yang menggunakan beberapa bahan tepung dan lem PVAC atau lem kayu. Yang  dibuat menjadi adonan dan diberi warna sesuai dengan keinginan. Dari adonan tersebut dapat dibentuk sesuai yang kita inginkan seperti miniatur sayur – sayuran, buah – buahan kue, boneka, dsb. Dan dapat juga menjadi hiasan aksesoris rambut, handphone, bros, dsb. Dan pastinya semua orang menyukai hiasan yang cantik. Apalagi bila hiasan itu dibuat oleh tangan sendiri, hiasan itu menjadi bukan hanya sekedar barang pajangan, akan tetapi memiliki makna yang mendalam. Plastisin merupakan kerajinan yang unik, karena bahannya dapat dibentuk menjadi berbagai kreasi dengan berbagai fungsi. Kerajinan tangan ini mudah dipelajari siapa saja mulai anak – anak sampai dewasa.

Mungkin selama ini masayarakat bercita – cita untuk membuat hiasan dengan bentuk yang indah, warna yang menggugah selera, dan detail yang presisi. Namun kelhatannya objek seni dekoratif, terutama yang terbuat plastisin atau bahan polymer, terlalu sulit dan rumit untuk dibuat sendiri. Atau mungkin anda berpikir bahan dasar berkualitas terlalu mahal

Tahap pelatihan, sasaran yang terbagi menjadi 5 kelompok dari perwakilan setiap RT pada satu RW, dan diberikan pengarahan serta informasi mengenai proses pembuatan adonan, pewarnaan serta bentuk dasar. Proses pembuatan  memakan waktu kurang lebih 2 jam. Setelah pemberian benruk dan memberi perekat kemudian proses pengeringan dengan menggunakan angin apabila ingin terlihat lebih cerah dapat diberi vernish atau cat semprot bening.

Tahap evaluasi dan pelaporan, peneliti akan melihat sejauh mana pemahaman sasaran terhadap proses pembuatan plastisin, sekaligus melihat keberhasilan yang telah dicapai dalam bentuk produk plastisin yang telah menjadi hiasan.

Dengan pelatihan plastisin diharapkan masyarakat menkadi mandiri dan terampil dalam membuat berbagai macam hiasan, tentunya akan menjadi barang yang lebih berguna bahkan bisa menimbulkan nilai ekonomi bagi warga – warga di sana.

B. PERUMUSAN MASALAH

Kebutuhan akan keterampilan hidup melalui pelatihan akhir-akhir ini semakin meningkat dikalangan masyarakat dengan adanya dukungan dari beberapa faktor yang mempengaruhi, terutama dalam income setiap masyarakatnya. Dengan merebahnya permintaan pasar yang sangat banyak dalam bentuk hiasan rumah, gantungan handpon maupun berbagai bentuk bros yang dibuat guna untuk penambah dan mempercantik hiasan para pemiliknya maka dengan Membuat Hiasan Dari Plastisin akan menjadi sumber income bagi masyarakat khususnya individu-individu yang ingin menekuni dan ingin merubah ekonomi keluarga mereka dengan lebih baik lagi. Dengan nilai tambah yang diharapkan kemudahan cara pembuatannya masyarakat dapat berkreasi dengan baik.

C. TUJUAN

Adapun yang menjadi tujuan dan kegunaan dari pelatihan yang akan dilaksanakan ini antara lain :

  1. Memberikan gambaran mengenai pemberdayaan masyarakat, khususnya dalam rangka pengembangan home industri berupa aneka Hiasan Dari Plastisin
  2. Memberikan suatu solusi penanggulangan permasalahan pengangguran
  3. Memberikan suatu konsep pemberdayaan dengan berbagai alternatif,
  4. Memberikan suatu model pemberdayaan bagi masyarakat.

D. MANFAAT KEGIATAN

Manfaat yang bisa didapat dari pelatihan ini adalah masyarakat bisa membuat usaha kecil dalam pembuatan aksesoris untuk dijadikan barang yang mempunyai nilai jual yaitu Hiasan Dari Plastisin. Dan diharapkan agar kegiatan pelatihan ketrampilan ini bisa menambah penghasilan warga dan memandirikan masyarakat.

E. SASARAN

Sasaran warga belajar pelatihan ini adalah ibu-ibu dan remaja puteri (usia 18-25 tahun). Sasaran warga belajar yang ditujukan pada ibu-ibu dan remaja puteri dimaksudkan agar mereka dapat memiliki penghasilan dari keterampilan yang dimilikinya untuk masa depan. Sehingga mereka bisa membuka peluang usaha dengan bekal apa yang dipelajari saat mengikuti pelatihan.

F. METODE YANG DIGUNAKAN

Metode yang tepat untuk digunakan dalam Pelatihan Membuatan Hiasan Dari Plastisin:

1. Metode Ceramah

2. Metode Demonstrasi

3. Metode Tanya jawab

G. KETERKAITAN

Kegiatan ini diharapkan adanya dukungan dari institusi seperti kecamatan, kelurahan, Rw, dan Rt atau dari lembaga koperasi yang ada didaerah tersebut untuk mendukung terselenggaranya kegiatan ini. Dan dibutuhkannya koperasi untuk membantu mendistribusikan hasil ketrampilan membuat bross yang dbuat oleh warga setelah mendapat pelatihan serta menjadi empat bernaungnya warga dalam berusaha.

H. Rancangan Evaluasi

Setelah mendapatkan pelatihan ini maka untuk melihat hasilnya dilakukanlah evaluasi, adapun cara mengevaluasinya adalah dengan menugaskan para warga belajar untuk membuat sendiri dirumah dan memberikan batas waktu untuk Membuat Hiasan Dari Plastisin dan setelah jadi lalu dikumpulkan untuk dinilai dan menanyakan apakah warga belajar mendapatkan kesulitan dalam membuatnya. Apabila warga belajar mendapatkan kesulitan maka akan diberikan pengarahan bagaimana cara membuat yang benar, dan jika tidak ada kesulitan yang dialami oleh warga belajar maka pelatihan tersebut sudah berhasil.

I. JADWAL PELAKSANAAN               : Minggu, 10-11 april 2010

J. RENCANA ANGGARAN BELANJA

No Keperluan @ Jumlah Total
Kesekretariatan
1 Pembuatan Proposal Rp. 50.000,- 1 Rp. 50.000,-
2 Penggandaan Proposal Rp. 10.000,- 10 Rp. 100.000,-
3 Surat menyurat Rp.250.000,- Rp. 250,000,-
4 Tinta komputer Rp.200.000,- 1 Rp. 200.000,-
5 LPJ kegiatan Rp. 50.000,- 2 Rp. 100.000,-
Sub total Rp. 700.000,-
Penyuluhan dan Pelatihan
1 Pembuatan media (leaflet dan brosur) Rp.  6000 100 Rp.600.000,-
Sub total Rp.600.000,-
Konsumsi
1 Snack (sosialisasi kelurahan) Rp. 5.000,- 20 Rp. 100.000,-
2 Snack (pelatihan tiap RT) Rp. 5.000,- 10 Rp. 50.000,-
Sub total Rp. 150.000,-
Perlengkapan dan bahan – bahan
1 Tepung terigu 1kg :  Rp 8000 5 Rp. 40.000,-
2 Tepung tapioka 1 kg : Rp 5000 5 Rp.  25.000,-
3 Tepung beras 1 kg :Rp 10.000 5 Rp. 50.000,-
4 Lem PVAC 10 btl besar :Rp 16.000 10 Rp.160.000,-
5 Pewarna makanan Rp 4000 35 Rp. 140.000,-
6 Lem uhu Rp 6000 8 Rp 48. 000,-
7 Peniti 1lusin:Rp 24.000 2 Rp. 24.000,-
8 Plastik kiloan 1 plastik :Rp 4000 5 Rp 20.000,-
Sub total Rp. 507.000,-
Jumlah Total Rp. 1. 957.000,-

BAB II

RUANG LINGKUP PROGRAM

A. Organisasi penyelenggara :

Adapun susunan organisasi penyelenggara dalam pelatihan membuat hiasan plastisin ini adalah sebagai berikut:

Penanggung Jawab program :

Drs. Sri Koeswantono W. M.Si (Ketua Jurusan PLS FIP UNJ)

Pembina program :

Staf Pelaksana kegiatan :

Mahasiswa PLS FIP UNJ angkatan 2006.

Ketua Pelaksana       : Titis Sosionegoro

Sekertaris                    : Safitri

Bendahara                  : Rahmayanti

Seksi-seksi                  :

Seksi Konsumsi         : Nova Riyanti

Seksi Keamanan       : Imbang Jaya. T

Seksi Acara                 : Riska Hanifah

Seksi Dokumentasi  : Bayu

Seksi Perlengkapan : Risa santosa

B. SASARAN

Sasaran warga belajar pelatihan ini adalah ibu-ibu dan remaja puteri (usia 18-25 tahun). Sasaran warga belajar yang ditujukan pada ibu-ibu dan remaja puteri dimaksudkan agar mereka dapat memiliki penghasilan dari keterampilan yang dimilikinya untuk masa depan. Sehingga mereka bisa membuka peluang usaha dengan bekal apa yang dipelajari saat mengikuti pelatihan.

C. NARASUMBER / INSTRUKTUR

Adapun narasumber untuk pelatihan Membuat Hiasan Dari Plastisin ini adalah Titis Sosionegoro selaku pelaksana dalam program tersebut.

D. FASILITAS YANG DI MILIKI

Sarana dan prasarana yang dimiliki ruang pembelajaran, bahan dan alat yang diperlukan dalam pelatihan Membuat Hiasan Dari Plastisin.

E. KURIKULUM

Adapun kurikulum dalam pelatihan Membuat Hiasan Dari Plastisin ini adalah sebagai berikut :

Bahan dan Alat :

  • Tepung terigu
  • Tepung sagu/tapioka
  • Tepung beras
  • Lem kayu putih/PVAC
  • Cat poster/pewarna makanan
  • Lem uhu
  • Peniti bros
  • Keranjang hiasan
  • Plastik kiloan
  • Bando polos

Media :

Modul Pelatihan Pembuatan Hiasan Dari Plastisin

F. BAHAN AJAR YANG DIGUNAKAN

Adapun bahan ajar atau materi yang digunakan dalam pembelajaran membuatan Hiasan Dari Plastisin ini adalah Modul.

G. EVALUASI

Evaluasi hasil pelatihan ini adalah melihat hasilnya pada akhir  pertemuan pelatihan dengan mengadakan evaluasi kepada peserta pelatihan dan memberikan penilaian kepada peserta pelatihan dengan menyediakan sertifikat pelatihan.

H. NETWORKING

Adapun lembaga yang ikut serta dalam pelaksanaan kegiatan pelatihan ini adalah kelurahan dimana pelatihan ini diadakan.

Contoh bentuk  pelatihan yang sudah berjalan di RW.02 Kelurahan Klender Kecamatan Duren Sawit Jakarta Timur adalah sebagai berikut :

BAB II

RUANG LINGKUP PROGRAM

ANALISIS GENDER DAN PERUBAHAN SOSIAL

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Gender adalah konsep yang mengacu pada peran-peran dan tanggungjawab laki-laki dan perempuan yang terjadi akibat dari dan dapat berubah oleh keadaan social dan kebudayaan masyarakat. Keadilan Gender adalah suatu proses untuk menjadi adil terhadap laki-laki dan perempuan. Agar proses yang adil bagi perempuan dan laki-laki terwujud, diperlukan langkah-langkah untuk menghentikan berbagai hal yang secara sosial dan menurut sejarah telah menghambat perempuan dan laki-laki untuk bisa berperan dan menikmati hasil dari peran yang dimainkannya. Kalangan feminisme liberal yang prcaya bahwa bila perempuan diberi kesempatan yang sama dengan laki-laki, maka perempuan akan mendapatkan keadilannya dimasyarakat. Asumsi seperti ini, melihat bahwa ketertinggalan perempuan dalam sebuah proses pembangunan adalah diakibatkan karena perempuan selalu dikesampingkan dengan kaum laki-laki.

Analisis gender sebagai alat analisa sosial konflik memusatkan perhatian pada ketidakadilan struktural yang disebabkan oleh keyakinan gender-bias gender-pen- yang mengakar dan tersembunyi seperti tradisi masyarakat, keyakinan keagamaan, serta kebijakan dan perencanaan pembangunan. Bias gender ini umumnya dibaikan oleh banyak perencana pembangunan dan akibatnya banyak perempuan dirugikan akibat bias gender tersebut. Pembangunan di dunia ketiga yang mengacu kepada pertumbuhan ekonomi (kapitalisme-pen), menjadi isu gender karena model pembangunan tersebut mengakibatkan ketidakadilan bagi perempuan baik di ruang publik maupun privat. Moose juga menyatakan, bahwa dalam proses pembangunan, perempuan tidak hanya menderita akibat diskrimasi gender, namun juga karena relasi kelas, warna kulit, serta suku. Maka dari itu perlu diadakan keadilan gender. Keadilan geder di tujukan agar tidak ada perbedaan antara kaum laki-laki dan kaum perempuan, karena selama ini kaum perempuan selalu dikesampingkan dari kaum laki-laki, maka dari itu perlu diadakan keadilan gender.

Pemberdayaan haruslah dilakukan dalam sudut pandang perempuan dan bukanlah dibuat oleh para intelektual. Relevansi antara gender dan pembangunan mencakup bagaimana merumuskan model pembangunan dari sisi perempuan. Pembangunan yang melibatkan perempuan tertindas dan bersifat down-top merupakan upaya-upaya untuk dapat melihat kebutuhan perempuan. Bila pembangunan dilihat sebagai upaya pembebasan manusia, maka pembangunan yang berperspektif gender akan dapat menuntaskan ketidakadilan yang dialami perempuan dan membebaskan. Dari sudut kodrat, laki-laki dan perempuan memang berbeda, tapi dalam pelaksanaan hak dan kewajiban bukan untuk di beda-bedakan, maka dari itu, hak-hak dan peranan kaum perempuan harus disamakan dengan kaum laki-laki tanpa harus membeda-bedakan gender.

BAB II

PEMBAHASAN

Konsep dan Teori Gender

Konsep gender dapat di artikan “sifat” yang melekat pada kaum laki-laki dan perempuan yang di bentuk oleh factor-faktor social dan budaya sehingga lahir berupa teori atau anggapan dan pendapat mengenai pera social budaya laki-laki dan permpuasn. Gender adalah konsep yang mengacu pada peran-peran dan tanggungjawab laki-laki dan paerempuan yang terjadi akibat dari dan dapat berubah oleh keadaan social dan budaya masyarakat.

Dari sudut kodrat laki-laki dan perempuan memang beda, tapi dalam pelaksanaan hak dan kewajiban bukan untuk di beda-bedakan . did ala masyarakat memang harus di akui bahwa masih terdapatnya perbedaan hak, tanggungjawab, peran, kedudukan yang menyebabkan terjadinya disparitas peran antara laki-laki dan perempuan.

Untuk itu di butuhkan pemahaman yang komprehesif tentang permasalahan gender ini untuk mendapatkan apemahaman bahwa perbedaan laki-laki dan perempuan di lihat dari sudut pandang “non kodrati”, bukan dari sudut pandang kodrati.

Menurut Gross, Maton dan Mc. Eachern memberikan definisi peran sebagai seperangkat harapan-harapan yang di kenakan pada individu yang menempat kedudukan social tertentu. Harapan-harapan tersebut merupakan imbangan dari norma-norma social dan oleh karena itu dapat di katakana bahwa peran-peran itu di tentukan oleh norma-norma di dalam masyarakat.

Paul B. Horton dan Chesar I. Hunt mengartikan peran sebagai perilaku yang di harapkan dari seseorang dalam status tertentu, maka perilaku peran adalah perilaku yang sesungguhnya dari orang yang melakukan peran tersebut.

Menurut Dvid Berry: ”pertama-tama penting untuk menanyakan bagaimana masyarakat menentukan harapan-harapannya terhadap pemegang-pemegang peran. Dahrendorf mengatakan bahwa harapan-harapan yang terdapat dalam satu peran berasal dari norma-norma social yang berlaku pada masyarakat tersebut.

Masyarakat menuntut adanya keadilandi banding pelaksanaan hak dan kewajiban, kedudukan, peran yang di jalankan antara laki-laki dan perempua dalam segenap aspek kehidupan. Budaya pada masyarakat betawi selama ini telah meminggirakan peran wanita dalam kehidupan sosialnya. Tuntutan akan adanya perubahan social dalam masyarakat tentang kesetaraan gender pada masyarakat betai akan baerlangsung dengan cepat atau pun lambat de sesuaikan dengan kebutuhan masyarakatnya.

Menurut Ralf Dahrendorf mengidentifikasikan terjadinya perubahan sosial

  • Setiap masyarakat senantiasa berada didalam proses perubahan yang tidak pernah berakhir atau dengan kata lain perubahan-perubahan sosial merupakan gejala yang melekat didalam setiap masyarakat.
  • Setiap masyarakat mengandung konflik didalam dirinya, konflik adalah gejala yang melekat didalam setiap masyarakat.
  • Setiap undur didalam masyarakat memberikan sumbangan bagi terjadinya disintegrasi dan perubahan-perubahan sosial.
  • Setiap masyarakat yang berintegrasi, diatas penguasaan atau dominasi oleh sejumlah orang yang lain.

Seiring dengan perkembangan masyarakat, maka tuntutan peran yang harus dijalankan oleh perempuan mengalami perubahan pula. Dahulu perempuan sulit untuk mengaktualisasikan dirinya karena adanya ikatan budaya, maka budaya itupun akan berubah sejalan dengan terjadinya perubahan sosial pada masyarakatnya

KEADILAN GENDER

Keadilan Gender adalah suatu proses untuk menjadi adil terhadap laki-laki dan perempuan. Agar proses yang adil bagi perempuan dan laki-laki terwujud, diperlukan langkah-langkah untuk menghentikan berbagai hal yang secara sosial dan menurut sejarah telah menghambat perempuan dan laki-laki untuk bisa berperan dan menikmati hasil dari peran yang dimainkannya. Keadilan gender mengantar ke kesetaraan gender.

Untuk mengakhiri ketimpangan dan memperkuat otonomi diperlukan perlakuan terhadap perempuan dan laki-laki secara berbeda. Oleh karena itu, keadilan gender tidak berfokus pada perlakuan yang sama tetapi lebih mementingkan pada kesetaraan sebagai hasilnya. Perlakuan yang tidak sama memerlukan kejujuran dan keadilan dalam distribusi manfaat dan tanggung jawab antara perempuan dan laki-laki. Konsep keadilan gender mengenali bahwa perempuan dan laki-laki memiliki kebutuhan-kebutuhan, kekuasaan yang berbeda, dan bahwa perbedaan-perbedaan ini harus diidentifikasi dan diatasi agar kesetaraan antar kedua jenis kelamin dapat terwujud.

KEBUTUHAN-KEBUTUHAN PRAKTIS GENDER

Kebutuhan-kebutuhan praktis adalah kebutuhan yang muncul dari kebutuhan sehari-hari seperti kebutuhan akan akses kepada air bersih, makanan, rumah, dan sebagainya. Contoh-contoh kebutuhan praktis adalah pendidikan dan pelatihan keterampilan dalam baca-tulis, pengelolaan rumah tangga, gizi, kesehatan; akses kepada modal dan kredit; pelayanan kesehatan reproduksi, pelayanan keluarga berencana, pengadaan sanitasi.

KEPENTINGAN-KEPENTINGAN STRATEGIS GENDER

Kepentingan-kepentingan strategis gender (perempuan) muncul dan berkembang karena relasi perempuan dan laki-laki yang timpang, dimana perempuan berada pada posisi tersubordinasi. Memenuhi kepentingan-kepentingan strategis (perempuan) adalah upaya jangka panjang dan berkaitan dengan upaya memperbaiki posisi sosial perempuan. Termasuk dalam kepentingan-kepentingan strategis ini adalah hak-hak hukum perempuan; perlindungan terhadap perempuan dari kekerasan dimana saja dan dalam bentuk apapun; keterlibatan dalam pembuatan keputusan/ perencanaan/ kebijakan/ pelaksanaan/monitoring dan evaluasi, penguasaan atas tubuh perempuan sendiri; akses terhadap proses-proses demokratis yang partisipatoris, yang umumnya juga merupakan kepentingan-kepentingan strategis kelas pekerja yang miskin dan mereka yang berasal dari komunitas akar rumput.

KELAS

Suatu hirarki yang mengelompokkan orang-orang menurut tingkat sosial dan ekonominya. Secara umum, suatu masyarakat terdiri dari 3 kelas yaitu kelas atas, kelas menengah, dan kelas bawah. Analisis gender akan memberikan gambaran kenyataan yang holistik apabila memasukkan dimensi kelas ke dalam analisisnya.

KESADARAN DAN KEPEKAAN GENDER

Adalah kemampuan untuk mengenali kesenjangan hubungan kekuasaan antara perempuan dan laki-laki di dalam keluarga dan di dalam komunitas; dampak pembagian kerja berdasarkan gender terhadap perempuan dan laki-laki; bahwa pengalaman, permasalahan, kebutuhan, kepentingan, aspirasi perempuan dan laki-laki juga berbeda. Kesadaran ini membawanya kepada kepekaan gender yang artinya selalu mempertanyakan apakah suatu kebijakan, program, proyek, kegiatan adalah adil dan berdampak sama terhadap perempuan dan laki-laki dan hasilnya juga sama-sama dinikmati oleh perempuan dan laki-laki.

KESETARAAN GENDER

Kesetaraan Gender adalah kesamaan kondisi bagi laki-laki dan perempuan untuk memperoleh kesempatan dan hak-haknya sebagai manusia, agar mampu berperan dan berpartisipasi dalam kegiatan politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan dan keamanan nasional, dan kesamaan dalam menikmati hasil pembangunan.

Berarti perempuan dan laki-laki menikmati status yang sama dan memiliki kondisi yang sama untuk menggunakan hak-haknya dan kemampuannya secara penuh dalam memberikan kontribusinya kepada pembangunan politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Dengan demikian, kesetaraan gender merupakan penilaian yang sama yang diberikan masyarakat atas kesamaan dan perbedaan antara perempuan dan laki-laki, dan atas berbagai peran yang mereka lakukan.

KESENJANGAN GENDER

Suatu istilah yang mengacu kepada perbedaan-perbedaan antara perempuan dan laki-laki dalam akses ke dan kontrol atas sumber-sumber daya penting, perbedaan dalam pekerjaan dan upah dimana laki-laki menerima lebih banyak dibandingkan perempuan. Selain itu terkandung juga dalam kesenjangan gender ini yaitu ketidak-seimbangan hubungan antara perempuan dan laki-laki di dalam proses pembangunan, dimana perempuan tidak berpartisipasi dalam proses pembangunan (merencanakan, memutuskan, melaksanakan, memonitor dan mengevaluasi). Kesenjangan gender dapat diidentifikasi melalui analisis gender.

KETERGANTUNGAN

Suatu keadaan tersubordinasi. Dalam isu-isu gender, ketergantungan biasanya digunakan untuk mendiskripsikan keadaan yang dialami oleh kaum perempuan yang tidak memiliki penguasaan (kontrol) atas sumberdaya ekonomi dan pengambilan keputusan. Dalam banyak negara-negara Selatan (negara-negara dunia ketiga), ketika pendapatan kaum perempuan (misalnya, dari pertanian atau kerajinan tangan) dirusak, kaum perempuan tergantung secara ekonomi dan tergantung dalam pengambilan keputusan.

MANFAAT

Termasuk dalam manfaat adalah hal-hal praktis (uang atau pendapatan, pelatihan, kebutuhan-kebutuhan dasar, waktu, dsb.) dan hal-hal yang strategis (meningkatnya status sosial, kesempatan, contohnya dengan dimilikinya keterampilan dalam hal-hal tertentu) yang dipunyai oleh laki-laki dan perempuan yang diperolehnya dari kegiatan-kegiatan produktif, reproduktif, dan sosial mereka. Manfaat-manfaat dari berbagai sumberdaya tersebut di atas, dan dari kegiatan-kegiatan pembangunan perlu diukur untuk memastikan adanya kesetaraan / ketimpangan gender dalam suatu kelompok atau komunitas.

MASKULIN, MASKULINITAS

Dalam kaitannya dengan diskursus mengenai gender, istilah ini memiliki konotasi otonomi, rasionalitas, kekuatan fisik, jarak emosional, bahkan kekerasan. Beberapa berpendapat bahwa dunia ini banyak didominasi oleh ciri-ciri yang maskulin dan hal tersebut perlu diimbangi oleh ciri – ciri yang feminim seperti kedamaian, cinta, perhatian, dan pengasuhan.

MISOGINI

Kebencian terhadap perempuan yang menampakkan diri dalam bentuk yang berbeda, termasuk simbol-simbol abstrak seperti bahasa. Pemikiran bahwa perempuan itu penggoda atau pendosa adalah misogini.

NETRAL GENDER

Netral Gender adalah kebijakan/program/kegiatan atau kondisi yang  tidak memihak pada salah satu jenis kelamin.

ANALISA GENDER

Analisa Gender adalah proses yang dibangun secara sistematis untuk mengidentifikasi dan memahami pembagian kerja/peran laki-laki dan perempuan, akses dan kontrol terhadap sumber-sumber daya pembangunan, partisipasi dalam proses pembangunan dan manfaat yang mereka nikmati, pola hubungan antara laki-laki dan perempuan yang timpang, yang didalam pelaksanaannya memperhatikan faktor-faktor lainnya seperti kelas sosial, ras, dan suku bangsa.

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Bentuk ketidakadilan jender lainnya yaitu sub-ordinasi atau penomerduaan. Konsep subordinasi posisi perempuan terhadap laki-laki mengacu pada hubungan antara perempuan dan laki-laki di dalam proses sosial secara keseluruhan, dan bagaimana hubungan ini berlangsung sehingga merendahkan posisi perempuan, perempuan dianggap tidak penting. Di lingkup ini, Moore [1988] secara kritis mengkaitkan pelabelan seksual dengan konsep kerja. Menurut Moore [1998] di dunia kapitalis ini, terjadi anggapan bahwa pekerjaan-pekerjaan yang menghasilkan upah/bernilai ekonomi (produksi dan di publik) dianggap sebagai kerja, sementara pekerjaan-pekerjaan yang tidak menghasilkan upah/tidak bernilai ekonomi dianggap bukan kerja, hanya aktivitas. Oleh karena itu dengan tajam Moore (1988: 15) menyimpulkan kerja-kerja perempuan seringkali tidak tampak (invisible) karena keterlibatan perempuan tampak di pekerjaan-pekerjaan yang tidak menghasilkan upah atau tidak dilakukan di luar rumah (walaupun memberikan penghasilan) , maka perempuan dianggap hanya beraktivitas, bukan kerja, dan karenanya tidak penting. Studi yang dilakukan oleh Chotim (1994) memperlihatkan adanya pembagian kerja yang merendahkan perempuan di industri kecil batik. Perempuan banyak dipekerjakan sebagai buruh ‘putting out’ lewat sistim makloon, dan upah buruh perempuan lebih rendah daripada laki-laki.

Bentuk marjinalisasi lainnya yaitu kekerasan. Deklarasi Anti-Kekerasan terhadap Perempuan menyebutkan, kekerasan terhadap perempuan adalah setiap tindakan berdasarkan perbedaan jenis kelamin, berakibat atau mungkin berakibat pada kerugian fisik, seksual, atau psikologis; atau penderitaan perempuan, termasuk ancaman terjadinya perbuatan itu, pemaksaan atau penghilangan kebebasan secara sewenang-wenang, baik di depan umum atau dalam kehidupan pribadi (Pasal 1). Dengan demikian bentuk kekerasan terhadap perempuan mencakup kekerasan fisik maupun psikologis.

TEORI KONFLIK

Latar Belakang

Teori konflik yang muncul pada abad ke sembilan belas dan dua puluh dapat dimengerti sebagai respon dari lahirnya dual revolution, yaitu demokratisasi dan industrialisasi, sehingga kemunculan sosiologi konflik modern, di Amerika khususnya, merupakan pengikutan, atau akibat dari, realitas konflik dalam masyarakat Amerika (Mc Quarrie, 1995: 65). Selain itu teori sosiologi konflik adalah alternatif dari ketidakpuasaan terhadap analisis fungsionalisme struktural Talcot Parsons dan Robert K. Merton, yang menilai masyarakat dengan paham konsensus dan integralistiknya.

Perspektif konflik dapat dilacak melalui pemikiran tokoh-tokoh klasik seperti Karl Marx (1818-1883), Emile Durkheim (1879-1912), Max Weber (1864-1920), sampai George Simmel (1858-1918). Keempat pemikiran ini memberi kontribusi sangat besar terhadap perkembangan analisis konflik kontemporer. Satu pemikiran besar lainnya, yaitu Ibnu Khouldoun sesungguhnya juga berkontribusi terhadap teori konflik. Teori konflik Khouldun bahkan merupakan satu analisis komprehensive mengenai horisontal dan vertikal konflik.

Marx adalah satu tokoh yang pemikirannya mewarnai sangat jelas dalam perkembangan ilmu sosial. Pemikiran Marx berangkat dari filsafat dialektika Hegel. Hanya saja ia menggantikan dialektika ideal menjadi dialektika material, yang diambil dari filsafat Fuerbach, sehingga sejarah merupakan proses perubahan terus menerus secara material. Sebagaimana dijelaskan Cambell dalam Tujuh Teori Sosial (1994), bahwa Marx menciptakan tradisi materialisme historis yang menjelaskan proses dialektika sosial masyarakat, penghancuran dan penguasaan secara bergilir kekuatan-kekuatan ekonomis, dari masyarakat komunis primitif kepada feodalisme, berlanjut ke kapitalisme, dan terakhir adalah masyarakat komunis.

Berkaitan dengan konflik, Marx mengajukan konsepsi mendasar tentang masyarakat kelas dan perjuangannya. Marx tidak mendefinisikan kelas secara panjang lebar tetapi ia menunjukkan bahwa dalam masyarakat, pada abad ke 19 di Eropa dimana dia hidup, terdiri dari kelas pemilik modal (borjuis) dan kelas pekerja miskin sebagai kelas proletar. Kedua kelas ini berada dalam suatu struktur sosial hirarkhis, dan borjuis melakukan eksploitasi terhadap proletar dalam sistem produksi kapitalis. Eksploitasi ini akan terus berjalan selama kesadaran semu eksis, false consiousness, dalam diri proletar, yaitu berupa rasa menyerah diri, menerima keadaan dan cita-cita akhirat. Dengan ini Marx mejadi orang yang tidak tertarik pada agama karena itu candu yang mengantar manusia pada halusinasi kosong dan menipu, untuk itulah komunisme selalu diintepretasikan dengan politik anti Tuhan (atheisme).

Teori-teori mengenai berbagai penyebab konflik, yaitu sebagai berikut :

Teori Hubungan Masyarakat

Menganggap bahwa konflik disebabkan oleh polarisasi yang terus terjadi, ketidakpercayaan dan permusuhan di antara kelompok yang berbeda dalam suatu masyarakat. Sasaran yang ingin dicapai teori ini adalah:

Meningkatkan komunikasi dan saling pengertian antara kelompok-kelompok yang mengalami konflik.

Mengusahakan toleransi dan agar masyarakat lebih bisa saling menerima keragaman yang ada di dalamnya.

Teori Negosiasi Prinsip

Menganggap bahwa konflik disebabkan oleh posisi-posisi yang tidak selaras dan perbedaan pandangan tentang konflik oleh pihak-pihak yang mengalami konflik. Sasaran yang ingin dicapai teori ini adalah:

Membantu pihak-pihak yang mengalami konflik untuk memisahkan perasaan pribadi dengan berbagai masalah dan isu, dan memampukan mereka untuk melakukan negosiasi berdasarkan kepentingan-kepentingan mereka daripada posisi tertentu yang sudah tetap.

Melancarkan proses pencapaian kesepakatan yang menguntungkan kedua belah pihak atau semua pihak.

Teori Kebutuhan Manusia

Berasumsi bahwa konflik yang berakar dalam disebabkan oleh kebutuhan dasar manusia – fisik, mental, dan sosial – yang tidak terpenuhi atau dihalangi. Keamanan, identitas, pengakuan, partisipasi, dan otonomi sering merupakan inti pembicaraan. Sasaran yang ingin dicapai teori ini adalah:

Membantu pihak-pihak yang mengalami konflik untuk mengidentifikasi dan mengupayakan bersama kebutuhan mereka yang tidak terpenuhi, dan menghasilkan pilihan-pilihan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan itu.

Agar pihak-pihak yang mengalami konflik mencapai kesepakatan untuk memenuhi kebutuhan dasar semua pihak.

Teori Identitas

Berasumsi bahwa konflik disebabkan karena identitas yang terancam, yang sering berakar pada hilangnya sesuatu atau penderitaan di masa lalu yang tidak diselesaikan. Sasaran yang ingin dicapai teori ini adalah:

Melalui fasilitas lokakarya dan dialog antara pihak-pihak yang mengalami konflik mereka diharapkan dapat mengidentifikasi ancaman-ancaman dan ketakutan yang mereka rasakan masing-masing dan untuk membangun empati dan rekonsiliasi di antara mereka.

Meraih kesepakatan bersama yang mengakui kebutuhan identitas pokok semua pihak.

Teori Kesalahpahaman Antarbudaya

Berasumsi bahwa konflik disebabkan oleh ketidak cocokan dalam cara-cara komunikasi di antara berbagai budaya yang berbeda. Sasaran yang ingin dicapai teori ini adalah:

Menambah pengetahuan pihak-pihak yang mengalami konflik mengenai budaya pihak lain.

Mengurangi stereotip negatif yang mereka miliki tentang pihak lain.

Meningkatkan keefektifan komunikasi antarbudaya.

Teori Transformasi Konflik

Berasumsi bahwa konflik disebabkan oleh masalah-masalah ketidaksetaraan dan ketidakadilan yang muncul sebagai masalah-masalah sosial, budaya dan ekonomi. Sasaran yang ingin dicapai teori ini adalah:

Mengubah berbagai struktur dan kerangka kerja yang menyebabkan ketidaksetaraan dan ketidakadilan, termasuk kesenjangan ekonomi.

Meningkatkan jalinan hubungan dan sikap jangka panjang di antara pihak-pihak yang mengalami konflik.

Mengembangkan berbagai proses dan sistem untuk mempromosikan pemberdayaan, keadilan , perdamaian, pengampunan , rekonsiliasi dan pengakuan.

Fisher dkk (2001:7) menggunakan istilah transformasi konflik secara lebih umum dalam menggambarkan situasi secara keseluruhan.

Pencegahan Konflik, bertujuan untuk mencegah timbulnya konflik yang keras.

Penyelesaian Konflik, bertujuan untuk mengakhiri perilaku kekerasan melalui persetujuan damai.

Pengelolaan Konflik, bertujuan untuk membatasi dan menghindari kekerasan dengan mendorong perubahan perilaku positif bagi pihak-pihak yang terlibat.

Resolusi Konflik, menangani sebab-sebab konflik dan berusaha membangun hubungan baru dan yang bisa tahan lama diantara kelompok-kelompok yang bermusuhan.

Transformasi Konflik, mengatasi sumber-sumber konflik sosial dan politik yang lebih luas dan berusaha mengubah kekuatan negatif dari peperangan menjadi kekuatan sosial dan politik yang positif.

TEORI KONFLIK

I.  Pengertian Teori Konflik

Menurut Marxian dan Simmel merupakan sejenis fungsionalisme struktural yang angkuh ketimbang  teori-teori yang benar-benar berpandangan  kritis terhadap masyarakatnya.  Teori ini berlawanan secara  langsung dengan teori Ralf Dahrendorf yaitu setiap  masyarakat  setiap saat tunduk pada proses perubahan. Sedangkan Randall Collins membangun teori konflik yang lebih  sintesis dan integratif. Menurutnya konflik adalah proses sentral dalam kehidupan sosial.

II. Manajemen Konflik.

Menurut Ross bahwa manajemen konflik merupakan langkah-langkah yang diambil para pelaku atau pihak ketiga dalam rangka mengarahkan perselisihan ke arah hasil tertentu yang mungkin atau tidak mungkin menghasilkan suatu akhir berupa penyelesaian konflik dan mungkin atau tidak mungkin menghasilkan ketenangan, hal positif, kreatif, bermufakat, atau agresif. Sedangkan menurut Fisher menggunakan istilah transformasi konflik secara lebih umum dalam menggambarkan situasi secara keseluruhan.

Sementara Minnery menyatakan bahwa manajemen konflik merupakan proses, sama halnya dengan perencanaan kota merupakan proses. Minnery  juga berpendapat bahwa proses manajemen konflik perencanaan kota merupakan bagian yang rasional dan bersifat iteratif, artinya bahwa pendekatan model manajemen konflik perencanaan kota secara terus menerus mengalami penyempurnaan sampai mencapai model yang representatif dan ideal.

III. Teori-teori utama mengenai sebab-sebab konflik adalah:

Teori hubungan masyarakat

Menganggap bahwa konflik disebabkan oleh polarisasi yang terus terjadi, ketidakpercayaan dan permusuhan di antara kelompok yang berbeda dalam suatu masyarakat. Sasarannya adalah  meningkatkan komunikasi dan saling pengertian antara kelompok yang mengalami konflik, serta mengusahakan toleransi dan agar masyarakat lebih bisa saling menerima keragaman yang ada didalamnya.

Teori kebutuhan manusia

Menganggap bahwa konflik yang berakar disebabkan oleh kebutuhan dasar manusia (fisik, mental dan sosial) yang tidak terpenuhi atau dihalangi. Hal yang sering menjadi inti pembicaraan adalah keamanan, identitas, pengakuan, partisipasi, dan otonomi. Sasarannya  adalah   mengidentifikasi dan mengupayakan bersama kebutuhan mereka yang tidak terpenuhi, serta menghasilkan pilihan-pilihan untuk memenuhi kebutuhan itu.

Teori negosiasi prinsip

Menganggap bahwa konflik disebabkan oleh posisi-posisi yang tidak selaras dan perbedaan pandangan tentang konflik oleh pihak-pihak yang mengalami konflik.  Sasarannya  adalah membantu pihak yang berkonflik untuk memisahkan perasaan pribadi dengan berbagai masalah dan isu dan memampukan mereka untuk melakukan negosiasi berdasarkan kepentingan mereka daripada posisi tertentu yang sudah tetap. Kemudian melancarkan proses kesepakatan yang menguntungkan kedua belah pihak atau semua pihak.

Teori identitas

Berasumsi bahwa konflik disebabkan oleh identitas yang terancam, yang sering berakar pada hilangnya sesuatu atau penderitaan di masa lalu yang tidak diselesaikan. Sasarannya adalah melalui fasilitas lokakarya dan dialog antara pihak-pihak yang mengalami konflik, sehingga dapat mengidentifikasi ancaman dan ketakutan di antara pihak tersebut dan membangun empati dan rekonsiliasi di antara mereka.

Teori kesalahpahaman antarbudaya

Berasumsi bahwa konflik disebabkan oleh ketidakcocokan dalam cara-cara komunikasi di antara berbagai budaya yang berbeda. Sasarannya adalah menambah pengetahuan kepada pihak yang berkonflik mengenai budaya pihak lain, mengurangi streotip negatif yang mereka miliki tentang pihak lain, meningkatkan keefektifan komunikasi antarbudaya.

Teori transformasi konflik

Berasumsi bahwa konflik disebabkan oleh masalah-masalah ketidaksetaraan dan ketidakadilan yang muncul sebagai masalah sosial, budaya dan ekonomi. Sasarannya  adalah  mengubah struktur dan kerangka kerja yang menyebabkan ketidaksetaraan dan ketidakadilan termasuk kesenjangan ekonomi, meningkatkan jalinan hubungan dan sikap jangka panjang di antar pihak yang berkonflik, mengembangkan proses dan sistem untuk mempromosikan pemberdayaan, keadilan, perdamaian, pengampunan, rekonsiliasi, pengakuan.

IV. Tingkatan konflik

Konflik Tingkat Individu

Dalam kategori ini, terdapat dua kategori konflik, yaitu: (1) konflik dalam diri individu yang bersangkutan, dan (2) konflik antar individu. Konflik dalam diri seseorang terjadi ketika dia mempunyai dua atau lebih kepentingan yang sifatnya bertentangan. Ketika kepentingan-kepentingan itu sama-sama menarik, atau sama-sama tidak menarik, namun dia harus menentukan pilihan, maka terjadilah konflik dalam diri individu yang bersangkutan. Konflik antar individu, terjadi ketika dua individu mempunyai kepentingan yang sama terhadap satu hal, dan mereka sama-sama tidak mau mengalah. Bisa juga, konflik terjadi ketika mereka mempunyai perbedaan pandangan atau pendapat, dan masing-masing menganggap pendapatnyalah yang paling benar. Pertentangan-pertentangan semacam inilah yang menimbulkan konflik antar individu.

Konflik Tingkat Lembaga

Dua atau lebih lembaga, bisa terlibat dalam suatu konflik. Pada tingkat lembaga ini, ada dua tingkatan konflik yaitu konflik dalam lembaga dan konflik antar lembaga.

V. Anotomi Konflik.

Karen Jehn mengurai anatomi dengan menanyakan;

Apa yang memicu konflik,

Siapa saja yang terlibat dalam konflik,

Apa sih isu yang disengketakan,

Bagaimana strategi yang dipakai masing-masing fihak fihak yang berkonflik untuk mencapai kemenangan,

Konflik meluas/mereda,

Apa konsekuensi dari konflik yang terjadi.
Dalam rangka menganalisis konflik, khususnya untuk keperluan menangani dan mengelolanya, beberapa pertanyaan berikut perlu diperhatikan: Pemicu konflik merupakan kejadian yang menjadi “pembuka” suatu konflik dan menjadikan konflik bersifat terbuka.

Pihak-pihak yang terlibat terdiri dari pihak yang terlibat secara langsung dalam konflik, pihak yang memberikan dukungan atau konstituen.
Isu konflik merupakan hal yang menjadi akar masalah dari konflik tersebut.

Strategi yang dimaksudkan disini adalah kegiatan, tak-tik apa saja yang dilakukan pihak yang berkonflik untuk menyerang pihak lainnya. Bisa dengan menggunakan demonstrasi, penyebaran kabar burung, dan lainnya. Konflik dapat meluas sehingga melibatkan lebih banyak pihak, wilayah yang lebih luas, dan isu yang lebih banyak hal ini dapat terjadi, suatu konflik yang pada awalnya hanya melibatkan dua pihak dan satu isu, bisa berkembang sehingga melibatkan lebih banyak aktor, dan juga bertambah banyak isu yang dipertentangkan.
Hasil dan akibat yang ditimbulkan bisa bersifat fisik seperti pembakaran rumah, korban tewas, kerusakan lingkungan, maupun akibat yang bersifat non fisik seperti menguatnya stereotip, trauma, pengelompokan, dan lainnya.

Kesimpulan

Perspektif konflik dapat dilacak melalui pemikiran tokoh-tokoh klasik seperti Karl Marx (1818-1883), Emile Durkheim (1879-1912), Max Weber (1864-1920), sampai George Simmel (1858-1918). Keempat pemikiran ini memberi kontribusi sangat besar terhadap perkembangan analisis konflik kontemporer. Satu pemikiran besar lainnya, yaitu Ibnu Khouldoun sesungguhnya juga berkontribusi terhadap teori konflik. Teori konflik Khouldun bahkan merupakan satu analisis komprehensive mengenai horisontal dan vertikal konflik.

Marx adalah satu tokoh yang pemikirannya mewarnai sangat jelas dalam perkembangan ilmu sosial. Pemikiran Marx berangkat dari filsafat dialektika Hegel. Hanya saja ia menggantikan dialektika ideal menjadi dialektika material, yang diambil dari filsafat Fuerbach, sehingga sejarah merupakan proses perubahan terus menerus secara material. Sebagaimana dijelaskan Cambell dalam Tujuh Teori Sosial (1994), bahwa Marx menciptakan tradisi materialisme historis yang menjelaskan proses dialektika sosial masyarakat, penghancuran dan penguasaan secara bergilir kekuatan-kekuatan ekonomis, dari masyarakat komunis primitif kepada feodalisme, berlanjut ke kapitalisme, dan terakhir adalah masyarakat komunis.

RAHASIA BESAR KEHIDUPAN ADALAH HUKUM TARIK-MENARIK (THE SECRET)

Bob Proctor

Rahasia memberikan segala sesuatu yang anda inginkan :

Kebahagiaaan, Kesehatan, dan Kekayaan.

Dr. Joe Vitale

Anda dapat memiliki atau melakuakan sesuatu yang anda inginkan.

John Assaraf

Kita dapat memiliki apa pun yang kita pilih. Terlepas dari seberapa pun besarnya. Rumah seperti apa yan anda inginkan? Apa anda menjadi jutawan? Bisnis yang seperti apa yang anda inginkan? Apakah anda menginginkan lebih banyak succes? Apa yang anda sunguh-sungguh anda inginkan?

DR. Dennis Waitley

Para pemimpin di masa lalu yang memiliki rahasia ini ingin menyimpan sendiri kekuatannya. Mereka membuat orang-orang pergi ke tempat kerja, bekerja, lalu pulang ke rumah. Mereka berada di ban berjalan tanpa daya karena rahasia ini disembunyikan dan hanya diketahui oleh sedikit orang.

Prentice Mulford (1834-1891)

Setiap pikiranmu adalah hal yang nyata – suatu daya.

John Assaraf

Bagi saya, cara tersederhana untuk memahami hukum tarik-menarik adalah jika saya menggap diri sebagai magnet, dan saya tahu sebuah magnet akan menarik sesuatu kepadanya.

Bob Doyle

Padasarnya hukum tarik menarik mengatakan bahwa kemiripan akan menarik kemiripan. Tetapi sebenarnya kita berbicara di tingkat pikiran.

John Assraf

Tugas kita sebagai manusia adalah memelihara pikiran-pikiran yang kita inginkan, memperjelas apa yang kita inginkan di dalam benak, dari situ kita mulai membangun salah satu hukum terbesar di semesta, dan itulah hukum tarik menarik. Anda tidak hanya menjadi apa yang paling anda pikirkan, tetapi anda juga meraih apa yang paling anda pikirkan.

John Assraf

Apa yang tidak dipahami sebagian orang adalah bahwa sebuah pikiran mempunyai frekuensi. Kita dapat mengukur pikiran itu. Jadi, jika anda berulang ulang memikirkan pikiran itu, jika dalam benak Anda membayangkan memiliki mobil baru, memiliki uang yang anda butuhkan, membangun perusahaan, menemukan sahabat jiwa … jika Anda membayangkan seperti apa yang anda terpikirkan, anda memancarkan frekuensi tersebut secara konsisten.

DR. Joe Vitale

Pikiran-pikiran memancarkan sinyal magnetis yang menarik hal serupa kembali ke arah anda.

Charles Haanel

Getaran dari kekuatan mental adalah kekuatan yang paling halus, akibatnya paling berdaya dari segala yang ada.

Bob Proctor

Lihatlah diri Anda berada dalam kelimpahan, Anda akan menarik kelimpahan ke dalam hidup anda. Ini ampuh untuk setiap orang, di setiap saat.

Lisa Nichols

Hukum tarik-menarik sangatlah patuh. Ketika anda memikirkan hal-hal yang anda inginkan dan anda, dan anda memfokuskan semua niat anda kepadanya, hukum tarik-menarik akan memberikan persis seperti apa yang anda inginkan, setiap waktu. Ketika anda berfokus pada hal-hal yang anda tidak inginkan – ”saya tidak ingin terlambat, saya tidak ingin terlambat” – hukum tarik menarik tidak mendengar bahwa anda tidak menginginkannya. Hukum ini mewujudkan hal-hal yang anda pikirkan. Hal-hal itu akan bermunculan. Hukum tarik-menarik tidak membedakan apa yang diinginkan atau apa yang anda tidak diinginkan. Ketika anda berfokus pada sesuatu, terlepas dari apa pun sesuatu itu, sebenarnya anda sedang memanggil sesuatu itu untuk hadir.

Bob Proctor

Hukum tarik-menarik selalu bekerja, terlepas dari apakah anda mempercayainya, memahaminya, atau tidak.

Lisa Nichols

Hukum ini bekerja sebanyak anda berpikir. Setiap kali pikiran anda mengalir, hukum tarik-menarik bekerja. Ketika anda memikirkan masa lalu, hukum tarik-menarik  bekerja. Ketika anda memikirkan masa kini atau masa depan, hukum tarik-menarik pun juga bekerja. Hukum ini berproses terus-menerus. Anda tidak menekan tombol istirahat atau berhenti. Hukum ini terus bertindak, seperti pikiran anda.

DR. John Demartini

Bila anda mengamati Rahasia ini, kekuatan pikiran, dan kekuatan niat dalam hidup sehari-hari dengan cermat, anda akan melihat bahwa semuanya ada di sekeliling kita. Yang perlu kita lakukan hanyalah membuka mata dan melihat.

Lisa Nichols

Anda dapat melihat hukum tarik-menarik di mana-mana. Anda menarik itu semua ke diri anda. Orang-orang, pekerjaan, situasi, kesehatan, kekayaan, utang, kegembiraan, mobil yang anda kendarai, dan komunitas dimana anda berada. Anda menarik itu semua ke diri anda sendiri, seperti magnet. Apa yang anda pikirkan adalah apa yang anda wujudkan. Seluruh hidup anda adalah perwujudan dari pikiran-pikiran yang berlangsung dalam benak anda.

DR Joe Vitale

Segala sesuatu yang pada saat ini mengelilingi anda, termasuk hal-hal yang anda keluhkan, adalah sesuatu yang anda tarik sendiri ke dalam hidup anda. Saya tahu ini adalah sesuatu yang tidak suka anda dengar. Anda akan segera berkata, “Saya tidak menarik kecelakaan. Saya menarik klien yang sangat jelas-jelas menyusahkan saya ini, saya tidak menarik utang kepada diri saya.” Baik ada saya di sini untuk sedikit menantang anda dan berkata, “Ya, anda menariknya sendiri!” Ini adalah salah satu konsep yang aling sulit diterima, tetapi sekali Anda menerimanya, hidup anda akan berubah.

Bob Doyle

Kebanyakan dari kita menarik sesuatu karena kelalaian. Kita hanya berfikir bahwa kita tidak memiliki kendali atasnya. Padahal pikiran dan perasaan kita berada dalam suatu tindakan rutin terus-menerus. Jadi, segala sesuatunya didatangkan pada karena kelalaian.

Merci Shimoff

Mustahil untuk memantau seyiap pikiran yang kita punyai. Para peneliti mengatakan bahwa kita mempunyai sekitar 60.000 pikiran sehari. Bisa anda bayangkan betapa lelahnya anda berusaha mengendalikan 60.000 pikiran itu? Untungnya ada jalan yang lebih mudah, dan ini adalah perasaan kita. Perasaan kita memberitahu apa yang kita pikirkan.

Bob Doyle

Emosi adalah karunia luar biasa yang kita punyai untuk memberitahu apa yang sedang kita pikirkan.

Lisa Nichols

Anda mempunyai dua rangkaian perasaan: perasaan baik dan perasaan buruk. Dan anda mengetahui perbedaan karena yang satu membuat anda merasa baik, dan yang lain membuat anda merasa buruk. Ada perasaan tertekan (depresi), marah, kesal, atau rasa bersalah. Perasaan-perasaan tersebut membuat anda merasa tidak berdaya. Itulah perasaan-perasaan buruk.

Lisa Nichols

Sisi sebaliknya adalah bahwa anda mempunyai emosi dan perasaan baik. Anda tahu ketika perasaan baik itu datang karena perasaan itu membuat anda merasa baik. Semangat, gembira, syukur, dan cinta. Bayangkan jika kita dapat merasakan setiap hari. Ketika anda merayakan perasaan-perasaan yang baik, anda akan menarik lebih banyak perasaan yang baik serta hal-hal yang membuat anda merasa baik.

Bob Doyle

Sebenarnya sederhana saja. “Apa yang saya tarik saat in?”

Lihat saja bagaimana perasaan anda. ”Saya merasa baik.” Bagus, teruslah seperti itu.

Marchi Shimoff

Jika anda merasa baik, anda menciptakan sebuah masa depan yang selaras dengan hasrat anda. Jika anda merasa buruk, anda menciptakan sebuah masa depan yang tidak selaras dengan hasrat anda. Ketika anda menjalani hidup sehari-hari, hukum tarik-menarik bekerja setiap detik. Segala sesuatu yang kita pikir dan rasa sedang menciptakan masa depan kita. Jika anda khawatir atau taku, Anda sedang mendatangkan lebih banyak kekhawatiran dan ketakutan ke dalam hidup Anda di sepanjang hari.

Jack Canfield

Perasaan-perasaan kita adalah suatu mekanisme umpan balik bagi kita mengenai apakah kita sedang berada di jalan benar atau tidak, apakah kita berada di dalam jalur atau di luar jalur.

Bob Doyle

Anda mendapatkan tepat seperti yang anda rasakan, dan tidak terlalu tepat dengan apa yang anda pikirkan.

Ini sebabnya mengapa orang cenderung semakin terperosok jika jari kakinya tersandung ketika ia bangun dari tempat tidur. Sekuruh hari akan berjalan seperti itu. Mereka tidak memahami bahwa sekadar memindahkan emosi akan mengubah seluruh hari – dan kehidupan.

Jika anda memulai hari dengan baik dan dalam perasaan bahagia, menurut hukum tarik-menarik – selama Anda tidak membolehkansesuatu mengubah suasana hati – Anda akan melanjutkan dengan lebih banyak situasi dan orang yang memelihara perasaan bahagia itu.

Michel Bernard Beckwith

Saat ini juga Anda dapat mulai merasa sehat. Anda dapat mulai merasa makmur. Anda dapat merasakan cinta yang menyelimuti anda, bahkan jika cinta itu tidak ada di sana. Yang akan terjadi adalah semesta akan mengiringi sesuai dengan jenis lagu anda. Semesta akan mewujud selaras dengan bentuk perasaan di dalam diri Anda karena begitulah cara Anda merasa.

Fungsi-fungsi Manajemen Pembelajaran dalam Penerapan Pembelajaran Pendidikan Luar Sekolah

Fungsi-fungsi Manajemen Pembelajaran

Perencanaan Pembelajaran

Perencanaan adalah salah satu fungsi awal dari aktivitas manajemen dalam mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Menurut Anderson (1989:47), perencanaan adalah pandangan masa depan dan menciptakan kerangka kerja untuk mengarahkan tindakan seseorang dimasa depan.

Yang dimaksud dengan perencanaan pembelajaran menurut Davis (1996) adalah pekerjaan yang dilakukan oleh seorang guru untuk merumuskan tujuan mengajar.

Dalam kedudukannya sebagai seorang manajer, guru melakukan perencanaan pembelajaran yang mencakup usaha untuk :

  1. Menganilisis tugas.
  2. Mengidentifikasi kebutuhan pelatihan atau belajar.
  3. Menulis tujuan belajar.

Model perencanaan Pengajaran

Suatu model perencanaan pengajaran sistematik, mengandung beberapa langkah, yaitu :

–          Identifikasi Tugas-tugas.

–          Analisis Tugas.

–          Penetapan Kemampuan.

–          Spesifikasi Pengetahuan, Keterampilan dan Sikap.

–          Identifikasi Kebutuhan Pendidikan dan Latihan.

–          Perumusan Tujuan.

–          Kriteria Keberhasilan Program.

–          Organisasi Sumber-sumber Belajar.

–          Pemilihan Strategi Pengajaran.

–          Uji Lapangan Program.

–          Pengukuran Realibitas Program.

–          Perbaikan dan Penyesuaian.

–          Pelaksanaan Program.

–          Monitoring Program.

Sebagai suatu model perencanaan pengajaran, Prosedur Pengembangan Sistem Intruksional Khusus (PSSI) memiliki langkah-langkah sebagai berikut, yaitu :

  • Perumusan Tujuan Pengajaran.
  • Pengembangan Alat Penilaian.
  • Penetapan Pedoman Proses Kegiatan Belajar Siswa.
  • Penetapan Pedoman Kegiatan Guru.
  • Pedoman Pelaksanaan Program.
  • Program Perbaikan (revisi).

Tujuan Pengajaran

Dick dan Reiser (1989) mengemukakan bahwa Tujuan Pengajaran adalah pernyataan umum dari apa yang akan dapat dilakukan pelajar sebagai hasil pengajaran yang dilakukan.

Adapun model pengajaran secara umum menurut Glasser (1968) sebagai berikut :

–          Instrucsional Objectives

–          Entering Behaviour

–          Intrucsional Producs

–          Performance Assesment

Setiap lembaga pendidikan nasional bermuara kepada pencapaian tujuan dan fungsi pendidikan yang dinyatakan dalam pasal 3 UU Nomor 20 Tahun 2003:

”Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mecerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi serta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

Tujuan dalam pengajaran adalah deskripsi tentang penampilan atau prilaku (performance) murid-murid yang diharapkan setelah mereka mempelajari bahan pelajaran yang disajikan oleh guru.

Menurut pendapat Bloom (1956) bahwa tujuan pengajaran harus mengaju kepada tiga dominan (kawasan pembinaan) untuk pengembangan pribadi anak, yaitu :

  • Kognitif,
  • Afektif, dan
  • Psikomotorik.

Urlich menjelaskan (1981:42) bahwa elemen dari tujuan pengajaran, adalah sebagai berikut :

  1. Pernyataan tentang perilaku yang dapat diamati, atau penampilan dari pelajar.
  2. Suatu perpaduan kondisi perilaku yang diinginkan terjadi.
  3. Pengungkapan penampilan minimal yang dapat diterima dari para pelajar.

Menurut Hamalik (1989:5), proses pendidikan sebagai proses untuk mengubah tingkah laku dan sikap sesuai dengan tujuan kognitif, afektif dan psikomotor merupakan komponen yang paling dalam sistem pendidikan. Dalam garis besarnya proses itu terdiri dari tiga aspek penting yaitu :

  • Tujuan pendidikan yang telah digariskan secara eksplisit dan implisit.
  • Pengalaman-pengalaman belajar didesain untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan.
  • Evaluasi yang dilakukan untuk menentukan seberapa jauh tujuan telah dicapai.

Menurut Kemp (1994) meskipun domain pembelajaran dibagi kepada tiga bagian, para guru perlu menyadari bahwa ketiganya memiliki hubungan yang erat dalam konteks tujuan yang akan dicapai.

Mengorganisisr Sumber Daya Pembelajaran

Lebih jauh menurut Davis, proses pengorganisasian dalam pembelajaran meliputi empat kegiatan, yaitu :

  1. Memilih alat taktik yang tepat.
  2. Memilih alat bantu belajar atau audio-visual yang  tepat.
  3. Memilih besarnya kelas (jumlah murid yang tepat).
  4. Memilih strategi yang tepay untuk mengkomunikasikan peraturan-peraturan, prosedur-prosedur serta pengajaran yang kompleks.

Ahmad Tafsir (1992:33) berpendapat bahwa metodologi pengajaran adalah pengetahuan yang membicarakan berbagai metode mengajar yang dapat digunakan oleh guru dalam menyelenggarakan kegiatan belajar-mengajar.

Dalam hal ini metode mengajar adalah :

  1. Merupakan salah satu komponen dari proses pendidikan.
  2. Merupakan alat mencapai tujuan yang didukung oleh alat-alat bantu mengajar.
  3. Merupakan kebulatan dalam satu sistem pengajaran.

Dapat disimpulkan bahwa metode mengajar adalah taktik atau strategi yang digunakan oleh guru dalam menyampaikan mata pelajaran kepada peserta didik.

Menurut Davis (1996) bahwa dalam memilih metode sangat tergantung pada sifat tugas, tujuan pengajaran yang akan dicapai, kemampuan dan pengetahuan sebelumnya serta umur murid.

Guru sebagai manajer dapat mengorganisasikan bahan pelajaran untuk disampaikan kepada murid dengan beberapa metode, yaitu :

  1. Metode Ceramah.
  2. Metode Demontrasi.
  3. Metode Diskusi.
  4. Metode Tanya-Jawab.
  5. Metode Driil atau Latihan Siap.
  6. Metode Resitasi atau Pemberian Tugas Balajar.

Pengelolaan Kelas

Arikunto (1992) berpendapat bahwa pengelolaan kelas adalah suatu usaha yang dilakukan oleh guru (penanggung-jawab) dalam membantu murid sehingga dicapai kondsi optimal pelaksanaan kegiatan belajar mengajar seperti yang diharapkan.

Pengelolaan kelas berkaitan dengan dua kegiatan utama, yaitu :

  • Pengelolaan yang berkaitan dengan siswa.
  • Pengelolaan yang berkaitan dengan fisik (ruangan, perobot, alat pelajaran).

Adapun tujuan pengeloalaan kelas adalah agar setiap anak dikelas dapat bekerja dengan tertib sehingga tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efisien.

Pengelolaan kelas yang berkaitan dengan siswa adalah mengenai besar atau kecilnya ukuran atau jumlah siswa dalam satu kelas.

Besarnya jumlah siswa dalam satu kelas diharapkan dapat memberikan dampak, diantaranya :

  1. Produktivitas kelompok maupun pengetahuan pribadi tentang hasil (tugas).
  2. Perselisiihan kelompok, rasa harga diri individu (relasi antar anggota siswa).

Davis (1991) menyimpulkan  bahwa efektivitas kelompok atau kelas dalam mencapai tujuan belajar adalah produk dari orientasi tugas dan relasi.

Kepemimpinan dalam Pembelajaran

Kepemimpinan sebagi prilaku seorang pimpinan dalam mempengaruhi individu dan kelompok orang dapat berlangsung dimana saja. Kepemimpinan dalam organisasi sekolah adalah kepemimpinan pendidikan.

Menurut Sue dan Glover (2000) dalam konteks pembelajaran, peran guru adalah mendorong murid untuk mengembangkan kapasitas pembelajaran, yang memungkinkan aktivitas manajemen, struktur organisasi, sistem dan proses yang diperlukan untuk menangani kegiatan mengajar dan peluang belajar para murid secara maksimal.

Dalam situasi pembelajaran diperlukan manajemen pembelajaran untuk semuayang terlibat dalam memudahkan proses pembelajaran. Guru adalah motivator untuk mempengaruhi siswa melakukan kegiatan belajar.

Oleh karena itu, guru sebagi pemimpin melakukan dua usaha utama, yaitu :

  1. Memperkokoh Motivasi Siswa.
  2. Memilih Strategi mengajar yang tepat.

Menurut Gordon (1997:23) hubungan antara guru dengan murid paling tidak ada beberapa hal yang musti diperhatikan, yaitu :

  • Keterbukaan dan transparan.
  • Penuh perhatian.
  • Saling ketergantungan dari pihak yang satu dengan pihak yang lain.
  • Keterpisahan, untuk memungkikan guru dan murid menumbuhkan dan mengembangkan keunikan, kreativitas, dan individualis masing-masing.
  • Pemenuhan kebutuhan bersama.

Silberman (1997) berpendapat bahwa boleh dikatakan pembelajaran akan memikat hati siswa manakala kepada mereka diperintahkan hal-hal sebagai berikut, antara lain :

  1. Sampaikan informasi dalam bahasa mereka.
  2. Berikan contoh tentang hal tersebut.
  3. Memperkenalkannya dalam berbagai arahan dan keadaan.
  4. Melihat hubungan antara lain informasi dan fakta atau gagasan lainnya.
  5. Membuat kegunaannya dalam berbagai cara.
  6. Memperhatikan bebrapa konsekuensi informasi tersebut.
  7. Menyatakan perbedaan informasi itu dengan yang lainnya.

Pembelajaran efektif ialah mengajar sesuai prinsip, prosedur dan desain, sedangkan belajar aktif yang dilakukan siswa dengan melibatkan seluruh seluruh unsur fisik dan psikis untuk mengoptimalkan pengembangan potensi anak.

Dijelaskan oleh Gordon (1997) ada beberapa persyaratan mendengar aktif dalam kegiatan mengajar, yaitu :

–          Guru harus mempunyai perasaan percaya yang dalam terhadap kemampuan murid untuk memecahkan masalahnya sendiri.

–          Guru harus dapat menerima dengan tulus perasaan-perasaan yang diungkapkan murid.

–          Guru harus mengerti bahwa perasaan-perasaan seringkali berubah.

–          Guru harus mempunyai keinginan membantu menyelesaikan masalah murid dan menyediakan waktu untuk itu.

–          Guru harus dekat dengan setiap murid yang mengalami masalah tetapi juga harus dapat menjaga identitasnya.

–          Guru harus mengerti bahwamurid jarang dapat memulai berbagai masalah yang sebenarnya.

–          Guru harus menghormati kerahasiaannya apa yang dialami oleh murid dalam kehidupannya.

Menurut Sriyono, dkk (1992) dilihat dari segi hubungan guru dengan murid dalam konteks kepemimpinannya, ada beberapa gaya kepemimpinan guru, yaitu :

  • Guru yang Otoriter.
  • Guru yang memberikan Kebebasan.
  • Guru yang Demokratis.

Memperkuat Motivasi Siswa

Persoalan motivasi bukan hanya kajian dalam psikologi, tetapi juga berkaitan dengan manajemen dan pembelajaran.

Motivasi adalah keinginan untuk melakukan sesuatu tindakan.

Menurut Davis (1996) kegiatan motivasi ialah ”Kekuatan yang tersembunyi didalam diri dan mendorong seseorang berkelakuan dan bertindak dengan cara yang khusus”.

Menurut Mitchell (Sue dan Glover, 2000) berpendapat bahwa motivasi adalah sebagai suatu tingkatan kejiwaan berkaitan dengan keinginan individu dan pilihan untuk melakukan prilaku tertentu.

Robins (1984) mengemukakan tingkatan kebutuhan sebagai dasar motivasi sesuai dengan pendapat Maslow, yaitu :

  • Kebutuhan Psikologis,

Mencakup : Lapar, Haus, dan Dorongan Seksual.

  • Kebutuhan Rasa Aman,

Mencakup : Keamanan dan Perlindungan Fisik dan Emosi.

  • Kebutuhan Sosial,

Mencakup : Kepemilikan, Penerimaan, dan Persahabatan.

  • Kebutuhan Harga Diri,

Mencakup : (Faktor Internal) Harga Diri, Otonomi, dan Prestasi.

(Faktor Eksternal) Status, Pengakuan, dan Perhatian.

  • Kebutuhan Aktulisasi Diri,

Mencakup : Pertumbuhan, Pencapaian Potensi Individu.

Evaluasi Pembelajaran

Dalam konteks manajemen pembelajaran, kontrol (pengawasan) adalah suatu pekerjaan yang dilakukan seorang guru untuk menentukan apakah fungsi organisasi serta pimpinananya telah dilaksanakan dengan baik mencapai tujuan-tjuan yang ditentukan.

Johnson, dkk (1978) mengutip pendapat Henri Fayol (1949), Mokler (1970), dan Wiener (1950), yang memberikan dasar teori kontrol lebih awal mengenai konsep ilmu tentang kontrol diatas sistem yang kompleks, informasi dan komunikasi.

Jonhson (1978:74) menyimpulkan kontrol sebagai fungsi dari sistem yang memberikan penyesuaian dalam mengarahkan kepada rencana, pemeliharaan dari variasi-variasi dari sasaran sistem didalam batasan-batasan yang diperbolehkan.

Ditegaskan oleh Kemp (1993:157) bahwa, tidak ada perbaikan dalam proses pembelajaran tanpa lebih dahulu melakukan evaluasi yang baik terhadap proses pembelajaran itu sendiri.

Hamalik (1990), karena tugas seorang perancang sistem dalam konteks pembelajaran adalah mengorganisir orang-orang, material dan prosedur-prosedur agar siswa belajar secara efisien.

Menurut Dimyati dan Mudjono (1999:190) evaluasi mencakup evaluasi belajar dan evaluasi pembelajaran.

Reigeluth (1993:9) bahwa evaluasi pengajaran adalah berkaitan dengan pemahaman, peningkatan dan pelaksanaan metode sebagai penilaian terhadap efektifitas dan efisiensi dari semua aktifitas.

Pendapat Hamalik (1990:259) evaluasi adalah suatu proses berkelanjutan tentang pengumpulan dan penafsiran informasi untuk menilai (assess) keputusan-keputusan yang dibuat dalam merancang suatu sistem pengajaran.

Oleh karena itu, Hamalik memberikan tiga implikasi, yaitu :

  1. Evaluasi adalah proses yang terus-menerus bukan hanya pada akhir pengajaran, akan tetapi dimulai sebelum dilaksanakannya pengajaran sampai dengan berakhirnya pengajaran.
  2. Proses evaluasi senantiasa diarahkan kepada tujuan tertentu, yaitu untuk mendapatkan jawaban-jawaban tentang bagaimana memperbaiki pengajaran.
  3. Evaluasi menuntut pengguanaan alat-alat ukur yang akurat dan  bermakna untuk mengumpulkan informasi yang dibutuhkan guna membuat keputusan.

Tujuan dan Fungsi Evaluasi Pengajaran

Tujuan utama evaluasi adalah untuk mengetahui tingkat keberhasilan yang dicapai oleh siswa setelah mengikuti suatu kegiatan pembelajaran dimana tingkat keberhasilan tersebut kemudian ditandai dengan skala nilai berupa huruf atau kata atau simbol.

Hasil evaluasi belajar dapat difungsikan dan ditujukan untuk keperluan berikut :

  • Untuk Diagnostik dan Pengembangan,
  • Untuk Seleksi,
  • Untuk Kenaikan Kelas, dan
  • Untuk Penempatan.

Menurut Kemp dkk, bahwa tujuan utama evaluasi adalah untuk menentukan kemajuan siswa dalam belajar.

Davis (1991:294) mengemukakan beberapa manfaat dari evaluasi belajar, yaitu :

  1. Mengukur kopetensi atau kapabilitas siswa apakah mereka telah merealisasikan tujuan yang telah yang ditentukan.
  2. Mentukan tujuan mana yang belum direalisasikan sehingga tindakan perbaikan yang cocok dapat diadakan.
  3. Merumuskan ranking siswa dalam hal kesuksesan mereka mencapai tujuan yang telah disepakati.
  4. Memeberikan informasi kepada guru tentang cocok tidaknya strategi mengajar yang ia gunakan, supaya kelebihan dan kekurangan strategi mengajar tersebut dapat ditentukan.
  5. Merencanakan prosedur untuk memperbaiki rencana pelajaran, dan menentukan apakah sumber belajar tambahan perlu diberikan.

Menurut Seels dan Rechey (1994) penilaian formatif berkaitan dengan pengumpulan informasi tentang kecukupan dan penggunaan informasi ini sebagai dasar pengembangannya sebelumnya.

Jenis-jenis Evaluasi adalah sebagai berikut :

  • Evaluasi formatif adalah yang berfungsi untuk memperbaiki proses belajar mengajar.
  • Evaluasi sumatif adalah evaluasi untuk menentukan angka kemajuan hasil belajar siswa.

Insrumen evaluasi hasil belajar disebut juga teknik tes atau teknik non tes. Evaluasi menempati posisi yang sangat strategis dalam proses belajar mengajar (PBM). Kedudukan evaluasi hampir sama dengan tujuan dan memiliki hubungan yang erat dalam sistem pengjaran.

Menurut Hamalik (1989:5), bahwa proses pendidikan sebagai proses untuk merubah tingkah laku dan sikap sesuai dengan tujuan kognitif, afektif, dan psikomotor, dalam garis besarnya , proses itu terdiri dari  tiga aspek penting, yaitu :

–          Tujuan pendidikan yang telah digariskan secara eksplisit dan implisit,

–          Pengalaman-pengalaman belajar didesain untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan, dan

–          Evaluasi yang dilakukan untuk menentukan seberapa jauh tujuan telah dicapai.

Peningkatan Mutu dalam Pembelajaran

Spanbauer dalam Hubbard, ed ((1993:394) menjelaskan sekolah-sekolah yang berhasil, telah menerapkan dua strategi utama, yaitu :

  1. Mengunakan pendekatan sistem yang melakukan peninjauan ulang secara lebih cepat terhadap proses yang berhubungan langsung dengan pelajar.
  2. Hal yang paling penting dan langsung berdampak positif adalah terlibatnya guru-guru secara aktif dalam pembuatan keputusan dan manajemen sekolah.

Spanbauer (1993) mengemukakan komponen-komponen dari model implementasi Total Quality Management (TQM) dalam pendidikan sebagai berikut :

  • Kepemimpinan.
  • Pendekatan Fokus Terhadap Pelanggan.
  • Iklim Organisasi.
  • Tim Pemecah Masalah.
  • Tersedia Data yang Bermakna.
  • Metode Ilmiah dan Alat-alat.
  • Pendidikan dan Pelatiahan.

Untuk mencapai keberhasilan pembelajaran unggul, maka harus diperhatikan faktor-faktor sebagai berikut :

  1. Guru,
  2. Siswa,
  3. Metode Mengajar,
  4. Manajemen Pembelajaran,
  5. Psikologi Pembelajaran,
  6. Lingkungan Belajar,
  7. Sarana, Prasarana, Media, Laboratorium, dan
  8. Dana.

Aplikasi Total Quality Management (TQM) di Kelas

Menurut Spanbauer (1994) TQM merupakan payung bagi strategi peningkatan mutu sekolah, seperti pembelajaran percepatan (accelerated learning), manajemen berbasis lingkungan, pemberdayaan guru, pendidikan berbasis hasil, efektivitas lembaga, pendidikan berbasis masyarakat dan pembelajaran berpusat kepada muri, diharapkan akan dapat memberdayakan pendidikan.

Hoy (1990) menjelaskan ada bebrapa tahapan yang aan dilalui untuk memantapkan budaya mutu dalam menuju sekolah unggul, yaitu :

–          Membangun komitmen menanamkan dalam diri personil sekolah untuk mencapai tujuan.

–          Perencanaan, menggunakan keterampilan individu dan tim untuk dikembangkan mencapai tujuan.

–          Tindakan, untuk mengembangkan dan menggunakan keterampilan dalam menetapkan program berkelanjutan.

–          Evaluasi, menilai kemajuan pencapaian tujuan, nilai yang dicaoai dan kebutuhan masa depan.

Dalam Total Quality Management (TQM), pembelajaran adalah berbasis kepada lingkungan, maka bidang pengajaran disepakati sebagai langkah pertama untuk menghabiskan rancangan dan proses pembelajaran yang efektif.

Hal yang penting dalam rancangan pembelajaran adalah hubungan fungsional yang jelas antara input, prose dan output dalam pembelajaran.

Menurut Hoy (2000), proses pembelajaran berakar didalam kelas. Guru mengelola pengajaran dan pembelajaran serta peningkatan harus melibatkan usaha-usaha guru dalam proses.

Evaluasi Kurikulum

PENDAHULUAN

Evaluasi merupakan bagian dari sistem manajemen yaitu perencanaan, organisasi, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi. Kurikulum juga dirancang dari tahap perencanaan, organisasi kemudian pelaksanaan dan akhirnya monitoring dan evaluasi. Tanpa evaluasi, maka tidak akan mengetahui bagaimana kondisi kurikulum tersebut dalam rancangan, pelaksanaan serta hasilnya. Tulisan ini akan membahas mengenai pengertian evaluasi kurikulum, pentingnya evaluasi kurikulum dan masalah yang dihadapi dalam melaksanakan  evaluasi kurikulum.

ISI

A. Pengertian Evaluasi Kurikulum

Pemahaman mengenai pengertian evaluasi kurikulum dapat berbeda-beda sesuai dengan pengertian kurikulum yang bervariasi menurut para pakar kurikulum. Oleh karena itu penulis mencoba menjabarkan definisi dari evaluasi dan definisi dari kurikulum secara per kata sehingga lebih mudah untuk memahami evaluasi kurikulum.Pengertian evaluasi menurut joint committee, 1981 ialah penelitian yang sistematik atau yang teratur tentang manfaat atau guna beberapa obyek. Purwanto dan Atwi Suparman, 1999 mendefinisikan evaluasi adalah proses penerapan prosedur ilmiah untuk mengumpulkan data yang valid dan reliabel untuk membuat keputusan tentang  suatu program. Rutman and Mowbray 1983 mendefinisikan evaluasi adalah penggunaan metode ilmiah untuk menilai implementasi  dan outcomes suatu program yang berguna untuk proses membuat keputusan. Chelimsky 1989 mendefinisikan evaluasi adalah suatu metode penelitian yang sistematis untuk menilai rancangan, implementasi dan efektifitas suatu program. Dari definisi evaluasi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa evaluasi adalah penerapan prosedur ilmiah yang sistematis untuk menilai rancangan, implementasi dan efektifitas suatu program.1,2,3Sedangkan  pengertian kurikulum adalah :4

a.       Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu (Pasal 1 Butir 19 UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional);

b.      Seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pembelajaran serta metode yang  digunakan sebagai pedoman menyelenggarakan  kegiatan pembelajaran (Keputusan Menteri Kesehatan Nomor: 725/Menkes/SK/V/2003 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pelatihan di bidang Kesehatan.).

c.       Kurikulum pendidikan tinggi adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi maupun bahan kajian dan pelajaran serta cara penyampaian dan penilaiannya yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar-mengajar di perguruan tinggi (Pasal 1 Butir 6 Kepmendiknas No. 232/U/2000 tentang Pedoman Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi dan Penilaian Hasil Belajar Mahasiswa);

d.      Menurut Grayson (1978), kurikulum adalah suatu perencanaan untuk mendapatkan keluaran (out- comes) yang diharapkan dari suatu pembelajaran. Perencanaan tersebut disusun secara terstruktur untuk suatu bidang studi, sehingga memberikan pedoman dan instruksi untuk mengembangkan strategi pembelajaran (Materi di dalam kurikulum harus diorganisasikan dengan baik agar sasaran (goals) dan tujuan (objectives) pendidikan yang telah ditetapkan dapat tercapai;e.       Sedangkan menurut Harsono (2005), kurikulum merupakan gagasan pendidikan yang diekpresikan dalam praktik. Dalam bahasa latin, kurikulum berarti track atau jalur pacu. Saat ini definisi kurikulum semakin berkembang, sehingga yang dimaksud kurikulum tidak hanya gagasan pendidikan tetapi juga termasuk seluruh program pembelajaran yang terencana dari suatu institusi pendidikan.

Dari pengertian evaluasi dan kurikulum di atas maka penulis menyimpulkan bahwa pengertian evaluasi kurikulum adalah penelitian yang sistematik tentang manfaat, kesesuaian efektifitas dan efisiensi dari kurikulum yang diterapkan. Atau evaluasi kurikulum adalah proses penerapan prosedur ilmiah untuk mengumpulkan data yang valid dan reliable untuk membuat keputusan tentang kurikulum yang sedang berjalan atau telah dijalankan.

Evaluasi kurikulum ini dapat mencakup keseluruhan kurikulum atau masing-masing komponen kurikulum seperti tujuan, isi, atau metode pembelajaran yang ada dalam kurikulum tersebut.Secara sederhana evaluasi kurikulum dapat disamakan dengan penelitian karena evaluasi kurikulum menggunakan penelitian yang sistematik, menerapkan prosedur ilmiah dan metode penelitian. Perbedaan antara evaluasi dan penelitian terletak pada tujuannya. Evaluasi bertujuan untuk menggumpulkan, menganalisis dan menyajikan data untuk bahan penentuan keputusan mengenai kurikulum apakah akan direvisi atau diganti. Sedangkan penelitian memiliki tujuan yang lebih luas dari evaluasi yaitu menggumpulkan, menganalisis dan menyajikan data untuk menguji teori atau membuat teori baru.1,2,3

Fokus evaluasi kurikulum dapat dilakukan pada outcome dari kurikulum tersebut (outcomes based evaluation) dan juga dapat pada komponen kurikulum tersebut (intrinsic evaluation). Outcomes based evaluation merupakan fokus evaluasi kurikulum yang paling sering dilakukan. Pertanyaan yang muncul pada jenis evaluasi ini adalah “apakah kurikulum telah mencapai tujuan yang harus dicapainya?” dan “bagaimanakah pengaruh kurikulum terhadap suatu pencapaian yang diinginkan?”. Sedangkan fokus evaluasi intrinsic evaluation seperti evaluasi sarana prasarana penunjang kurikulum, evaluasi sumber daya manusia untuk menunjang kurikulum dan karakteristik mahasiswa yang menjalankan kurikulum tersebut.5

B. Pentingnya Evaluasi Kurikulum

Penulis setuju dengan pentingnya dilakukan evaluasi kurikulum. Evaluasi kurikulum dapat menyajikan informasi mengenai kesesuaian, efektifitas dan efisiensi  kurikulum tersebut terhadap tujuan yang ingin dicapai dan penggunaan sumber daya, yang mana informasi ini sangat berguna sebagai bahan pembuat keputusan  apakah kurikulum tersebut masih dijalankan tetapi perlu revisi atau kurikulum tersebut harus diganti dengan kurikulum yang baru. Evaluasi kurikulum juga penting dilakukan dalam rangka  penyesuaian dengan perkembangan ilmu pengetahuan, kemajuan teknologi dan kebutuhan pasar yang berubah. 1,2,3

Evaluasi kurikulum dapat menyajikan bahan informasi mengenai area – area kelemahan kurikulum sehingga dari hasil evaluasi dapat dilakukan proses perbaikan menuju yang lebih baik. Evaluasi ini dikenal dengan evaluasi formatif. Evaluasi ini biasanya dilakukan waktu proses berjalan. Evaluasi kurikulum juga dapat  menilai kebaikan kurikulum apakah kurikulum tersebut masih tetap dilaksanakan atau tidak, yang dikenal evaluasi sumatif. 5

C. Masalah dalam Evaluasi Kurikulum Norman dan Schmidt 2002 mengemukakan ada beberapa kesulitan dalam penerapan evaluasi kurikulum , yaitu : 6

  1. Kesulitan dalam pengukuran
  2. Kesulitan dalan penerapan randomisasi dan double blind
  3. Kesulitan dalam menstandarkan  intervensi dalam pendidikan.
  4. Pengaruh intervensi dalam pendidikan mudah dipengaruhi oleh faktor-faktor lain sehingga pengaruh intervensi tersebut seakan-akan lemah.

Penulis mencoba menganalisa masalah yang dihadapi dalam melakukan evaluasi kurikulum, yaitu :

1.      Dasar teori yang digunakan dalam evaluasi kurikulum lemahDasar teori yang melatarbelakangi kurikulum lemah akan mempengaruhi evaluasi kurikulum tersebut. Ketidakcukupan teori dalam mendukung penjelasan terhadap hasil intervensi  suatu kurikulum yang dievaluasi akan membuat penelitian (evaluasi kurikulum) tidak baik. Teori akan membantu memahami kompleksitas lingkungan pendidikan yang akan dievaluasi. Contohnya Colliver mengkritisi bahwa Problem Based Learning (PBL) tidak cukup hanya menggunakan teori kontekstual learning untuk menjelaskan efektivitas PBL. Kritisi ini ditanggapi oleh Albanese dengan mengemukakan teori lain yang mendukung PBL yaitu, information-processing theory, complex learning, self determination theory. Schdmit membantah bahwa sebenarnya bukan teorinya yang lemah akan tetapi kesalahan terletak kepada peneliti tersebut dalam memahami dan menerapkan teori tersebut dalam penelitian. 7,8,9,10

2. Intervensi pendidikan yang dilakukan tidak memungkinkan dilakukan BlindedDalam penelitian pendidikan khususnya penelitian evaluasi kurikulum, ditemukan kesulitan dalam menerapkan metode blinded dalam melakukan intervensi pendidikan. Dengan tidak adanya blinded maka subjek penelitian mengetahui bahwa mereka mendapat intervensi atau perlakuan sehingga mereka akan melakukan dengan serius atau sungguh-sungguh. Hal ini tentu saja dapat mengakibatkan bias dalam penelitian evaluasi kurikulum. 7,8,9,10

3.      Kesulitan dalam melakukan randomisasiKesulitan melakukan penelitian evaluasi kurikulum dengan metode randomisasi dapat disebabkan karena subjek penelitian yang akan diteliti sedikit atau kemungkinan hanya institusi itu sendiri yang melakukannya. Apabila intervensi yang digunakan hanya pada institusi tersebut  maka timbul pertanyaan, “apakah mungkin mencari kelompok kontrol dan randomisasi?”. 7,8,9,10

4.      Kesulitan dalam menstandarkan intervensi yang dilakukan/kesulitan dalam menseragamkan intervensi.Dalam dunia pendidikan sulit sekali untuk menseragamkan sebuah perlakuan cotohnya penerapan PBL yang mana memiliki berbagai macam pola penerapan. Norman (2002) mengemukakan tidak ada dosis yang standar atau fixed dalam intervensi pedidikan. Hal ini berbeda untuk penelitian di biomed seperti pengaruh obat terhadap suatu penyakit, yang mana dapat ditentukan dosis yang fixed. Berbeda dengan penelitian evaluasi kurikulum misalnya pengaruh PBL terhadap kemamuan Self Directed Learning (SDL). Penerapan PBL di berbagai FK dapat bermacam-macam. Kemungkinan penerapan SDL dalam PBL di FK A 50 % , sedangkan di    FK B adalah 70 % , maka apabila mereka dijadikan subjek penelitian maka tentu saja pengaruh PBL terhadap SDL akan berbeda. 7,8,9,10

5.      Masalah Etika penelitianMasalah etika penelitian merupakan hal yang perlu dipertimbangkan. Penerapan intervensi dengan metode blinded dalam penelitian pendidikan sering terhalang dengan isu etika. Secara etika intervensi tersebut harus dijelaskan kepada subjek penelitian sehingga dapat dipertanggungjawabkan. Padahal apabila suatu intervensi diketahui oleh subjek penelitian maka ada kecendrungan subjek penelitian melakukan dengan sungguh-sungguh sehingga penelitian tidak berjalan secara alamiah.Pengaruh hasil penelitian terhadap institusi juga perlu dipertimbangkan. Adanya prediksi nantinya pengaruh hasil penelitian yang akan menentang kebijaksanaan institusi dapat mengkibatkan kadangkala peneliti menghindari resiko ini dengan cara menghilangkan salah satu variable dengan harapan hasil penelitian tidak akan menentang kebijaksanaan. 7,8,9,10

6.      Tidak adanya pure outcomeOutcome yang dihasilkan dari sebuah intervensi pendidikan seringkali tidak merupakan outcome murni dari intervensi tersebut. Hal ini disebabkan karena banyaknya faktor penganggu yang mana secara tidak langsung berhubungan dengan hasil penelitian. Postner dan Rudnitsky, 1994 juga mengemukakan dalam outcome based evaluation terdapat informasi mengenai main effect dan side effect sehingga kadangkala peneliti kesulitan membedakan atara main effect dan side effect ini. 7,8,9,10

7.      Kesulitan mencari alat ukurEvaluasi pendidikan merupakan salah satu komponen utama yang tidak dapat dipisahkan dari rencana pendidikan. Namun perlu dicatat bahwa tidak semua bentuk evaluasi dapat dipakai untuk mengukur pencapaian tujuan pendidikan yang telah ditentukan. Informasi tentang tingkat keberhasilan pendidikan akan dapat dilihat apabila alat evaluasi yang digunakan sesuai dan dapat mengukur setiap tujuan. Alat ukur yang tidak relevan dapat mengakibatkan hasil pengukuran tidak tepat bahkan salah sama sekali. 7,8,9,10

8.      Penggunaan Perspektif kurikulum yang berbeda sebagai pembandingPostner mengemukakan ada lima perspektif dalam kurikulum yaitu traditional, experiential, Behavioral, structure of discipline dan constructivist. Masing-masing perspektif ini memiliki tujuannya masing-masing. Dalam melakukan evaluasi kurikulum kita harus mengetahui perspektif kurikulum yang akan dievaluasi dan perspektif kurikulum pembanding. Hal ini sering terlihat dalam evaluasi kurikulum dengan menggunakan metode comparative outcome based yang bila tidak memperhatikan masalah ini akan melahirkan bias dalam evaluasi. Kurikulum dengan perspektif tradisional tentu saja berlainan dengan kurikulum yang memiliki perspektif konstruktivist. Contoh kurikulum tradisional menekankan pada recall of knowledge sedangkan kurikulum konstruktivist menekankan pada konsep dasar dan ketrampilan berpikir. Apabila ada penelitian yang menghasilkan bahwa kurikulum tradisional di pendidikan dokter lebih baik dalam hal knowledge dibandingkan dengan PBL hal ini tentu saja dapat dimengerti karena perspektifnya berbeda. Penelitian yang menggunakan metode perbandingan kurikulum yang perspektifnya berbeda ini seringkali menjadi kritikan oleh para ahli. 5

KESIMPULAN

Evaluasi kurikulum adalah proses penerapan prosedur ilmiah untuk mengumpulkan data yang valid dan reliabel untuk membuat keputusan tentang  kurikulum yang sedang berjalan atau telah dijalankan. Secara sederhana evaluasi kurikulum dapat disamakan dengan penelitian, karena evaluasi kurikulum menggunakan penelitian yang sistematik, menerapkan prosedur ilmiah dan metode penelitian. Evaluasi kurikulum penting dilakukan dalam rangka  penyesuaian dengan perkembangan ilmu pengetahuan, kemajuan teknologi dan kebutuhan pasar. Ada banyak masalah dalam penerapan evaluasi kurikulum seperti dasar teori yang digunakan dalam evaluasi kurikulum lemah, intervensi pendidikan yang dilakukan tidak memungkinkan dilakukan blinded, kesulitan dalam melakukan randomisasi, kesulitan dalam menstandarkan intervensi yang dilakukan, masalah etika penelitian, tidak adanya pure outcome, kesulitan mencari alat ukur dan penggunaan perspektif kurikulum yang berbeda sebagai pembanding. Oleh karena itu dengan memahami pengertian evaluasi kurikulum dan persamaan serta perbedaannya dengan  penelitian  diharapkan evaluasi kurikulum yang akan dibuat dapat menjadi valid, reliabel dan sangat berguna sebagai bahan pertimbangan dalam membuat keputusan tentang kurikulum tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

1.      Lindeman, M. (2007). Program Evaluation. [Internet]. Available from:    < ww.tedi.uq.edu.au/conferences/A_conf/papers/Isaacs.html >  Accessed 3 July 2007].

2.      Silver,  H. (2004). Evaluation Research in Education. [Internet]. Available from:   < outh.ac.uk/resined/evaluation/index.htm >                           [Accessed 3 July 2007].

3.      Trochim, W.M.K. (2006). Introduction to Evaluation. [Internet]. Available from:                               < http://www.socialresearchmethods.net/kb/intreval.php&gt;   [Accessed 3 July 2007].

4.      Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Direktorat Pembinaan Akademik dan Kemahasiswaan,(2003). Buku II –Kurikulum Program Studi.

5.      Posner, G.J., (2004). Analyzing The Curriculum. Mc Graw Hill. United States.

6.      Amin, Z.E., Eng, K.H., (2003). Basics in Medical Education, World Scientific, Singapore.

7.      Dolman, D.(2003). The effectiveness of PBL : the debate continous. Some concerns about the BEME movement. Medical Education 2003;37:1129-1130

8.      Farrow, R. The effectiveness of PBL: the debate continues. Is meta analysis helpful? Medical Education 2003;37:1131-1132

9.      Norman, G.R, Schdmidt H.G. Effectiveness of problem based learning curricula: theory, practice and paper darts. Medical Education 2000;34:721-728.

10.  Albanese, M. Problem based learning: why curricula are likely to show little effect on knowledge and clinical skills. Medical Education 2000;34:729-738.

Entry Filed under: Curriculum. .

EVALUASI PROGRAM PELATIHAN BERKREASI MENGGUNAKAN KERTAS SEMEN BEKAS

EVALUASI PROGRAM PELATIHAN BERKREASI

MENGGUNAKAN KERTAS SEMEN BEKAS

RT. 01 RW. 07

KEC. SUKMAJAYA KEL. MEKARJAYA

DEPOK

I. TUJUAN PROGRAM

Tujuan umum diadakannya program “Pelatihan Berkreasi Menggunakan Kertas Semen Bekas RT. 01 RW. 07  Kec. Sukmajaya Kel. Mekarjaya Depok II Tengah” ialah atas dasar program kerja Karang Taruna yaitu program pembinaan Anak Remaja, Terutama dalam peningkatan keterampilan dan life skill. Serta pembinaan usaha sebagai kegiatan produktif remaja sangat penting untuk kelangsungan masa depan bangsa. Selain itu, atas dasar Rapat koordinasi karang taruna dengan Dewan Kelurahan Mekarjaya dan warga masyarakat, pada tanggal 2 Januari 2010 bertempat di sekretariat RW. 07 yang inti rapat menghasilkan perlunya peningkatan kapasitas remaja. Atas dasar hal tersebutlah maka tujuan umum dilaksanannya program “Pelatihan Berkreasi Menggunakan Kertas Semen Bekas RT. 01 RW. 07  Kec. Sukmajaya Kel. Mekarjaya Depok II Tengah”.

II. TUJUAN BELAJAR

Tujuan   belajar   diselenggarakannya   pelatihan   ini   adalah sebagai berikut:

  • Memberikan pengertian tentang arti pentingnya peran remaja bagi masa depan bangsa.
  • Memberikan life skill kepada remaja sebagai modal usaha dalam bentuk keterampilan.

Disamping itu hasil yang ingin dicapai dari adanya ” “Pelatihan Berkreasi Menggunakan Kertas Semen Bekas RT. 01 RW. 07  Kec. Sukmajaya Kel. Mekarjaya Depok II Tengah”” yaitu:

  • Antusiasme Remaja dalam pelaksanaan program Pelatihan Airbrush Karang Taruna RT. 01 RW.07 Kelurahan Mekarjaya,Depok II Tengah.
  • Metode yang digunakan harus tepat.

III. RASIONALISASI EVALUASI PROGRAM

Menentukan bagaimana suatu perubahan tingkah laku yang terjadi pada peserta didik setelah mengikuti “Pelatihan Berkreasi Menggunakan Kertas Semen Bekas RT. 01 RW. 07  Kec. Sukmajaya Kel. Mekarjaya Depok II Tengah”

Proses    evaluasi    mencakup    kegiatan    perencanaan, dan penafsiran mengenai keberlangsungan program yang dijalankan di lapangan.

IV. TUJUAN EVALUASI

Tujuan evaluasi dari program  “Pelatihan Berkreasi Menggunakan Kertas Semen Bekas RT. 01 RW. 07  Kec. Sukmajaya Kel. Mekarjaya Depok II Tengah” ialah mengetahui:

  • Mendeskripsikan bagaimana program tersebut dijalankan
  • Untuk mengambil keputusan mengenai keberhasilan program
  • Untuk menindak lanjuti jika terjadi kekurangan dan kelemahan dalam melaksanakan program tersebut agar dapat diperbaiki
  • Mengetahui kesesuaian antara praktek dan rencana kerja.

V. INDIKATOR-INDIKATOR

Indikator-indikator dalam evaluasi program “Pelatihan Berkreasi Menggunakan Kertas Semen Bekas RT. 01 RW. 07  Kec. Sukmajaya Kel. Mekarjaya Depok II Tengah” ini lalah:

  • Sasaran
  • Strategi
  • Metode Pelatihan
  • Jadwal Acara
  • Pembagian team
  • Perlengkapan yang dibutuhkan
  • Antusiasme   siswa-siswi   dalam   pelaksanaan   program  “Pelatihan Berkreasi Menggunakan Kertas Semen Bekas RT. 01 RW. 07  Kec. Sukmajaya Kel. Mekarjaya Depok II Tengah”.

VI. SISTEM PROGRAM (INPUT-PROSES-OUTPUT)

Keberhasilan program dalam evaluasi ini salah satunya dapat dilihat dengan adanya interaksi remaja yang mengajukan pertanyaan kepada para nara sumber. Dengan adanya peran aktif antara nara sumber yang merupakan proses input yang hasilnya akan memcerminkan output yang baik yaitu dapat dijadikan indikator keberhasilan program “Pelatihan Berkreasi Menggunakan Kertas Semen Bekas RT. 01 RW. 07  Kec. Sukmajaya Kel. Mekarjaya Depok II Tengah”.

Jadi, yang menjadi input dalam program ini ialah peran serta peserta pelatihan dengan narasumber. Sedangkan outputnya yaitu peserta dapat memahami bagaimana melakukan peningkatan kemampuan keterampilan kertas Semen bekas sebagai modal usaha sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.

VII. MEMILIH DAN MENGEMBANGAN INSTRUMEN

Instrumen yang dibuat yaitu berupa pertanyaan-pertanyaan peserta yang dibuat oleh evaluator untuk dapat dijawab, pertanyaan-pertanyaan tersebut berupa pertanyaan tertutup dan yang nanti dijadikan suatu masukan guna mengambil keputusan untuk melakukan perbaikan pada program selanjutnya.

VIII. PELAKSANAAN EVALUASI PROGRAM

Pelaksanaan evaluasi perlangsung pada saat kegitan berjalan. Yaitu terhitung dari tanggal 01 Dedember 2009 s/d 09 Januari 2010.

IX. PENGUMPULAN DATA

Data yang terlampir dalam laporan berupa :

•   Waktu pelaksanaan kegiatan program

•   Tempat

•   Peserta yang data

•   Yang hadir

Data yang terkumpul dari para peserta warga belajar dari instrumen yang telah diisi ialah sebagai berikut: Instrumen Program “Pelatihan Berkreasi Menggunakan Kertas Semen Bekas RT. 01 RW. 07  Kec. Sukmajaya Kel. Mekarjaya Depok II Tengah”.

NO Pertanyaan Ya % Tidak % Ket.
1 Apakah merasa program kegiatan ini berguna bagi anda? 85 15
2 Apakah metode penyampaian materi ini jelas dan efektif? 52 48
3 Apakah anda antusias? 87 13
4 Apakah anda merasa jumlah peserta yang hadir cukup banyak 73 27
5 Apakah acara yang diadakan tepat? 65 35
6 Apakah anda melihat kesiapan panitia matang? 77 23
7 Apakah media yang digunakan sudah tepat? 50 50

X. ANALISIS

Berdasarkan pengamatan evaluator, semua ramaja pada umumnya menyambut baik, terlihat dari persiapan masyarakat yang cukup baik, terutama dalam penyiapan tempat, pengerahan remaja serta hal-hal lain yang berkaitan dengan persiapan pelatihan,

Sedangkan berdasarkan data yang dikumpulkan dan diperoleh maka dapat disimpulkan bahwa peserta sangat antusias dengan adanya pelaksanaan program pelatihan Berkreasi Menggunakan Kertas Semen Bekas pada remaja.

Hal tersebut dapat dilihat dari instrumen yang diberikan kepada peserta. Mulai dari sasaran dari program tersebut tercapai, tujuan umum dan khusus diadakannya program ini juga tercapai. Managemen dari pelatihan tersebut juga telah terlaksana dengan cukup baik mengingat penyajian materi dari para nara sumber dan penyaji sangat sistematis dan mengena pada kalangan yang nota bene adalah remaja. Sehingga dapat dikatakan bahwa perlaksanaan program ” “Pelatihan Berkreasi Menggunakan Kertas Semen Bekas RT. 01 RW. 07  Kec. Sukmajaya Kel. Mekarjaya Depok II Tengah” dapat dikatan “berhasil” dan “efektif”.

XII. LAPORAN

Laporan Hasil Rapat Pelatihan Berkreasi Menggunakan Kertas Semen Bekas

1.   Dasar              : Program kerja karang taruna.

2.   Waktu             : Sabtu, 09 Januari 2010, jam 09.00 WIB s/d selesai.

3.   Tempat          : Sekretariat RW. 07 Kel. Mekarjaya, Depok II   Tengah.

4.   Peserta Yang Diundang:

  • Dewan kelurahan.
  • Ka. Karang Taruna
  • Ka. RT dan RW 07 Mekarjaya Depok.

5.   Yang Hadir  :

Dewan kelurahan.

  • Ka. Karang Taruna                              (1 orang).
  • Ka. RT dan RW 07 Mekarjaya, Depok.   (20 orang).
  • Remaja                                             (30 orang)
  • Warga                                                          (15 orang)

6.   Biaya        :  Swadaya masyarakat dan dana karang taruna.

7.   Strategi dan Metode Pelatihan

Strategi yang diterapkan adalah melibatkan Dinas Instansi yang terkait yang ada relevansinya dengan tujuan program yaitu tokoh masyarakat dengan pejabat desa.

8.   Hasil-hasil  :

a) MATERI DAN NARA SUMBER

Materi Pelatihan  Berkreasi Menggunakan Kertas Semen Bekas ditinjau dari aspek seni yang dibawakan oleh anggota nara sumber (Materi sudah diterima dan tinggal pengadaan oleh panitia mengenai Berkreasi Menggunakan Kertas Semen Bekas).

Materi Pelatihan  Berkreasi Menggunakan Kertas Semen Bekas

B)  SASARAN

Remaja RT. 04 RW. 024 (sekitar 50 orang)

C) Jadwal Pelatihan Semen Bekas Berkreasi

Tanggal 01 Desember 2009 s/d 02 Januari 2010 sebagai berikut:

NO Hari / Tanggal Jenis Kegiatan Bentuk Sasaran Sumber
1 17 Desember 2009 Pengeznalan Semen Bekas Berkreasi (sejarah, perkembangannya, cara kerja, alat dan bahan). CeramahTanya Jawab Peserta Pelatihan(Pemuda Karang Taruna) ModulFasilitator
2 19 Desember 2009 Free test (praktek mengenal alat dan cara kerja). Praktek Peserta Pelatihan(Pemuda Karang Taruna) ModulFasilitator
3 21 Desember 200 Objek I (mengambar objek sederhana teknik freehand dan mal). Praktek Peserta Pelatihan(Pemuda Karang Taruna) ModulFasilitator
4 23 Desember 2009 Lettering(Proses pewarnaan kertas semen dengan cara pencelupan). Praktek Peserta Pelatihan(Pemuda Karang Taruna) ModulFasilitator
5 25 Desember 2009 Objek II (membuat gambar dengan empat warna lebih). Praktek Peserta Pelatihan(Pemuda Karang Taruna) ModulFasilitator
6 27 Desember 2009 Pengulangan Pelatihan Praktek Peserta Pelatihan(Pemuda Karang Taruna) ModulFasilitator
7 29 Desember 2009 Pengaulangan Pelatihan Praktek Peserta Pelatihan(Pemuda Karang Taruna) ModulFasilitator

D)   PERLENGKAPAN

• Overhed Proyektor & layarnya

•  Wirelest

• VCD

•  LCD

• TV 21 Inc

• Kabel-kabel

E) KESIMPULAN DAN SARAN

•   Kesimpulan

Revelensi keterampilan Semen Bekas Berkreasi khususnya dikalangan remaja semakin meningkat, salah satu penyebarannya adalah minimnya pengetahuan remaja akan keterampilan Semen Bekas Berkreasi sebagai usaha.

•   Saran-saran

Untuk suksesnya acara tersebut diatas yang dilaksanakan oleh karang taruna dirasakan:

Perlu bantuan/dukungan dana; dan instansi terkait demi suksesnya program ini. Program ini tepat sekali dijalankan sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan bersama, mengingat pada program kerja karang taruna.