GEGAR BUDAYA DI TANAH JAKARTA


BAB I

PENDAHULUAN

1.1        LATAR BELAKANG

Manusia adalah makhluk sosial yang selalu berinteraksi satu sama lain, baik itu dengan sesama, adat istiadat, norma, pengetahuan ataupun budaya di sekitarnya. Pada kenyataanya seringkali kita tidak bisa menerima atau merasa kesulitan menyesuaikan diri dengan perbedaan-perbedaan yang terjadi akibat interaksi tersebut, seperti masalah perkembangan teknologi, kebiasan yang berbeda dari seorang teman yang berbeda asal daerah atau cara-cara yang menjadi kebiasaan (bahasa, tradisi atau norma) dari suatu daerah sementara kita berasal dari daerah lain.

Menurut Stewart (1974) Komunikasi antar budaya adalah komunikasi yang terjadi dibawah suatu kondisi kebudayaan yang berbeda bahasa, norma-norma, adat istiadat dan kebiasaan.

Dalam menjalani proses komunikasi antar budaya pasti akan mengalami suatu keterkejutan budaya yang berbeda dengan budaya kita. Menurut Dedi Mulyana dalam buku komunikasi antar budaya mengatakan bahwa Gegar budaya ditimbulkan oleh kecemasan yang disebabkan oleh kehilangan tanda-tanda dan lambang-lambang dalam pergaulan sosial.

Berikut ini adalah cerita dari salah satu keterkejutan budaya atau gegar budaya yang dialami saat berada di tempat tugas yang jauh dari daerah asal.

Budaya dan komunikasi. Keanekaragaman budaya berpengaruh pula beranekaragamnya praktek-praktek komunikasi, karenanya maka budaya merupakan landasan berkomunikasi. Bagaikan ikan dengan air, budaya dan komunikasi tidak adapat dipisahkan, karena budaya selain menentukan siapa bicara dengan siapa, tentang apa ( message ) dan bagaimana orang menyandi  ( to code ) pesan, juga memberi makna pesan yang disampaikan dan kondisi pengiriman pesan serta cara memperhatikan dan menafsirkan pesan / informasi.

Komunikasi antar budaya lebih cenderung dikenal sebagai perbedaan budaya dalam mempersepsi obyek-obyek sosial dan kejadian-kejadian, di mana masalah-masalah kecil  dalam komunikasi sering diperumit oleh adanya perbedaan-perbedaan persepsi dalam memandang masalah itu sendiri. Dalam hal ini komunikasi antar budaya diharapkan berperan memperbanyak dan memperdalam persamaan dalam persepsi dan pengalaman seseorang. Namun demikian karakter budaya cenderung memperkenalkan kita kepada pengalaman – pengalaman yang berbeda sehingga membawa kita kepada persepsi yang berbeda-beda atas dunia eksternal kita.

Bahasa verbal maupun non verbal dalam komunikasi memang dapat dipelajari, namun tetap saja keterbatasan individual berperan dalam keberhasilan komunikasi antar budaya. Perbendaharaan kata, tata bahasa dan fasilitas verbal belum cukup.

Maka pemahaman dan penguasaan bahasa isyarat ( non verbal ) seperti : gerak-gerik anggota tubuh dan ekspresi wajah, maupun isyarat halus dari nada suara, kemungkinan akan ditafsirkan secara salah dan memungkinkan orang lain tersinggung perasaanya, tanpa kita tahu mengapa hal itu terjadi.

Pola komunikasi suatu masyarakat tertentu merupakan bagian dari keseluruhan pola budaya dan dapat dipelajari / dipahami dalam konteks bahwa pola-pola komunikasi yang menjadi pengamatan kita diseluruh dunia adalah kumpulan dari adat istiadat yang selama ini kita anggap sepele dan tidak berarti.

Ada dua pendekatan dasar dalam studi mengenai budaya: emic dan etic. Pendekatan emic memfokuskan pada pengkajian budaya dari dalam, pada pemahaman budaya ketika anggota-anggota dari budaya memahami kebudyaan mereka. Sebaliknya, pendekatan etic memfokuskan pada memahami budaya dari luar dengan membandingkan budaya-budaya yang menggunakan karakteristik yang telah ditetapkan sebelumnya.

Perbedaan antara pendekatan emic dan etic dapat ditelusuri lewat pembahasan Pike (1966) tentang fonetik (ujaran-ujaran vokal yang universal) dan fonemik (ujaran-ujaran vokal yang secara budaya bersifat unik). Brislin (1983) berpendapat bahwa dalam pemakaiannya dewasa ini, perbedaan itu pada daarnya digunakan sebagai sebuah metafora untuk menunjukkan perbedaan-perbedaan antara pendekatan yang bersifat spesfik terhadap budaya (emic, budaya tunggal) dan pendekatan umum terhadap budaya (etic, universal) dalam penelitian. Berry (1980, pp.11-12) menyajikan sebuah rangkuman singkat tentang perbedaan-perbedaan itu.

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1        Gegar Budaya Di Tanah Jakarta

Hakekat Gegar Budaya

Gegar kebudayaan adalah pabrikasi ketidakberfungsian budaya atau semacam anomali karya, karsa, dan cipta manusia dalam hidupnya. Hal ini terjadi akibat dari tata-aturan yang diwariskan berupa simbol dan norma budaya tidak lagi ditelaah dan dijabarkan masyarakat modern. Etika sosial silih asah, silih asuh, dan silih asih.

Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai “kultur” dalam bahasa Indonesia.

Manusia adalah makhluk sosial yang selalu berinteraksi satu sama lain, baik itu dengan sesama, adat istiadat, norma, pengetahuan ataupun budaya di sekitarnya. Pada kenyataanya seringkali kita tidak bisa menerima atau merasa kesulitan menyesuaikan diri dengan perbedaan-perbedaan yang terjadi akibat interaksi tersebut, seperti masalah perkembangan teknologi, kebiasan yang berbeda dari seorang teman yang berbeda asal daerah atau cara-cara yang menjadi kebiasaan (bahasa, tradisi atau norma) dari suatu daerah sementara kita berasal dari daerah lain.

Menurut Stewart (1974) Komunikasi antar budaya adalah komunikasi yang terjadi dibawah suatu kondisi kebudayaan yang berbeda bahasa, norma-norma, adat istiadat dan kebiasaan.
Dalam menjalani proses komunikasi antar budaya pasti akan mengalami suatu keterkejutan budaya yang berbeda dengan budaya kita. Menurut Dedi Mulyana dalam buku komunikasi antar budaya mengatakan bahwa Gegar budaya ditimbulkan oleh kecemasan yang disebabkan oleh kehilangan tanda-tanda dan lambang-lambang dalam pergaulan sosial.

Definisi yang pertama dikemukakan didalam buku “Intercultural Communication: A Reader” dimana dinyatakan bahwa komunikasi antar budaya (intercultural communication) terjadi apabila sebuah pesan (message) yang harus dimengerti dihasilkan oleh anggota dari budaya tertentu untuk konsumsi anggota dari budaya yang lain (Samovar & Porter, 1994, p. 19).

Definisi lain diberikan oleh Liliweri bahwa proses komunikasi antar budaya merupakan interaksi antarpribadi dan komunikasi antarpribadi yang dilakukan oleh beberapa orang yang memiliki latar belakang kebudayaan yang berbeda (2003, p. 13). Apapun definisi yang ada mengenai komunikasi antar budaya (intercultural communication) menyatakan bahwa komunikasi antar budaya terjadi apabila terdapat 2 (dua) budaya yang berbeda dan kedua budaya tersebut sedang melaksanakan proses komunikasi.

Indonesia adalah negara kepulauan terdiri dari 17.508 pulau, 485 suku bangsa dan 583 bahasa daerah. Kenyataan itu sangat fantastis. Dengan begtu beragamnya suku bangsa, bahasa, dan adat istiadat.Kita tetap dipersatukan oleh satu bahasa, yaitu Bahasa Indpnesia. Sehingga informasi atau pesan kebudayaan dari masing-masing suku bangsa dengan bahasa yang berbeda-beda itu tetap bisa disimak.

Hubungan yang terjadi di antara berbagai suku bangsa tersebut tentu saja melalui suatu proses komunikasi. Jika proses komunikasi ditinjau dari segi komunikasi antarbudaya, maka bukanlah semata-mata terjadi proses tukar menukar barang seperti di pasar, tetapi terjadi suatu proses tukar menukar segi kebudayaan. Hal itu meliputi bahasa, religi, sistem ilmu pengetahuan, sistem ekonomi, sistem teknologi, sistem organisasi sosial dan kesenian.

Pengertian Kebudayaan

Kebudayaan, kesenian, bukum, adat istihadat dan setiap kemampuan lain dan kebiasaan yang dimiliki oleh manusia sebagai anggota suatu masyarakat. Misalnya: dari alat-alat yang paling sederhana seperti asesoris perhiasan tangan, leher dan telinga, alat rumah tangga, pakaian, system computer, non materil adalah unsur-unsur yang dimaksudkan dalam konsep norma-norma, nilai-nilai, kepercayaan / keyakinan serta bahasa.

Para kebudayaan sering mengartikan norma sebagai tingkah laku rata-rata, tingkah laku khusus atau yang selalu dilakukan berulang – ulang. Kehidupan manusia sellau ditandai oleh norma sebagai aturan sosial untuk mematok perilaku manusia yang berkaitan dengan kebaikan bertingkah lak, tingkah laku rata-rata atau tingkah laku yang diabstaksikan. Oleh karena itu dalam setiap kebudayaan dikenal norma-norma yang ideal dan norma-norma yang kurang ideal atau norma rata-rata. Norma ideal sangat penting untuk menjelaskan dan memahami tingkah laku tertentu manusia, dan ide tentang norma-norma tersebut sangat mempengaruhi sebagian besar perilaku sosial termasuk perlaku komunikasi manusia.

Nilai adalah konsep-konsep abstrak yang dimiliki oleh setiap individu tentang apa yang dianggap baik atau buruk, benar atau salah, patut atau tidak patut.  Unsur penting kebudayaan berikutnya adalah kepercayaan / keyakinan yang merupakan konsep manusia tentang segala sesuatu di sekelilingnya. Jadi kepercayaan / keyakinan itu menyangkut gagasan manusa tentang individu, orang lain, serta semua aspek yang berkaitan dengan biologi, fisik, sosial, dan dunia supernatural. Unsure penting kebudayaan adalah bahasa, yakni system kodifikasi kode dan symbol baik verbal maupun non verbal, demi keperluan komunikasi manusia.
Definisi kebudayaan di atas seolah bergerak dari suatu kontinum nilai kepercayaan kepada perasaan dan perilaku tertentu. Perilaku tertentu. Perilaku tersebut merupakan model perilaku yang diakui dan diterima oleh pendukung kebudayaan sehingga perilaku itu mewakili norma-norma

Apa Itu Efektivitas Komunikasi Antarbudaya

Yakni menciptakan komunikasi yang efektif melalui pemaknaan yang sama atas pesan yang dipertukarkan. Secara umum, sebenarnya tujuan komunikasi antar budaya antara lain untuk menyatakan identitas sosial dan menjebatani perbedaan antar budaya melalui perolehan infomasi baru, pengalaman atas kekeliruan dalam komunikasi antar budaya sering membuat manusia makin berusaha mengubah kebiasaan berkomunikasi, paling tidak melalui pemahaman terhadap latar belakang budaya orang lain. Menurut Wiliam Howell (1982), setiap individu mempunyai tingkatan kesadaran dan kemampuan yang berbeda-beda dalam berkomunikasi antar budaya. Tingkat kesadaran dan kemampuan itu terdiri atas empat kemungkinan, yaitu :

  1. Seseorang sadar bahwa dia tidakmampu memahami budaya orang lain.
  2. Dia sadar bahwa dia mampu memahami budaya orang lain.
  3. Dia tidak sadar bahwa dia mampu memahami budaya orang lain.
  4. Dia tidak sadar bahwa dia tidak mampu menghadapi perbedaan antarbudaya, keadaan ini terjadi manakala seseorang sama sekali tidak menyadari bahwa sebenarnya dia tidak mampu menghadapi perilaku budaya orang lain.

Para ahli komunikasi antarbudaya mengemukakan berbagai konsep tentang effektivitas komunikasi antarbudaya, milsanya :

  1. Komunikasi antarbudaya akan efektif kalau setiap orang yang terlibat dalam proses komunikasi mampu meletakkan dan memfugnsikan komunikasi di dalam suatu konteks kebudayaan tertentu.
  2. Efektivitas komunikasi antarbudaya sangat ditentukan oleh sejauhman manusia meminimalkan kesalahpahaman atas pesan-pesan yang dipertukarkan oleh komunikator dan komunikan antarbudaya.
  3. Salah satu studi yang pernah dilakukan Hammer (1987) menetapkan tiga tema sentral efektivitas komunikasi,

Berdasarkan konsep tersebut diatas maka uraian ini membahas suatu pendekatan umum yang menerangkan sejauh mana pengaruh factor-faktor pribadi atau gaya komunikasi individu mampu memberikan konstribusi atau bahkan memprediksi efektivitas komunikasi antarbudaya.

Pengertian Komunikasi

Komunikasi merupakan pusat dari seluruh sikap ,perilaku dan tindakan yang trampil dari manusia (communication involves both attides and skills). Manusia tidak bisa dikatakan berinteraksi sosial kalau tidak berkomunikasi dengan cara melalui pertukaran informasi ,ide-ide, gagasan,maksud serta emosi yang dinyatakan dalam simbul simbul dengan orang lain.

Komunikasi manusia itu dapt dipahami sebagai interaksi antar pribadi melalui pertukaran simbul simbul linguistik,misalnya simbul verbal dan non verbal. Seperti kata Mehrabian (1972) 55 % dari komunikasi manusia dinyatakan dalam simbul non verbal , 38% melalui nada suara, dan 7% komunikasi yang efektif dinyatakan melalui kata kata. Simbul simbul itu dinyatakan melalui sistem yang langsung seperti tatap muka atau (tulisan, visual, aural). Melalui pertukaran dan simbul simbul yang sama dalam menjelaskan informasi, gagasan dan emosi diantara itulah ,akan lahir kesamaan nama atas fikiran,perasaan dan perbuatan.

Komunikasi Antar Budaya

Komunikasi antar budaya adalah komunikasi yang terjadi di antara orang-orang yang memiliki kebudayaan yang berbeda (bisa beda ras, etnik, atau sosioekonomi, atau gabungan dari semua perbedaan ini. Kebudayaan adalah cara hidup yang berkembang dan dianut oleh sekelompok orang serta berlangsung dari generasi ke generasi (Tubbs, Moss:1996).

Gudykunst dan Kim (1992)memberi contoh komunikasi antar budaya sebagai berikut: Perhatikan kunjungan seorang asing yang menganut budaya bahwa kontak mata selama berkomunikasi adalah tabu di Amerika Utara. Bila si orang asing berbicara kepada penduduk Amerika Utara dengan menghindari kontak mata, maka ia dianggap menyembunyikan sesuatu atau tidak berkata benar.

Dalam paparan ini, langsung kita membicarakan bahwa komunikasi berhubungan dengan perilaku manusia dan kepuasan terpenuhinya kebutuhan berinteraksi sesama manusia lainnya. Sesuai kodratnya “ Homo Socius, homo luden, homo economicus dan homo sapien “, manusia mustahil hidup menyendiri, pasti ia berinteraksi untuk memenuhi kebutuhannya.

Hubungan sosial itu akan terpenuhi melalui pertukaran benda ( kebutuhan makan, minum, pakaian dengan barter – ekonomi pasar primitif ). Pertukaran kebutuhan itu menjadi jembatan yang menghubungkan manusia yang satu dengan lainnya, maka tanpa komunikasi manusia akan terisolasi ( terkucil ).

Ketika kita berbicara, maka yang terjadi sesungguhnya ketika sedang berperilaku, berkomunikasi dengan bahasa terucapkan. Bila kita tersenyum, melambaikan tangan, berwajah garang, muram, atau anggukkan atau geleng kepala itu juga berkomunikasi melalui bahasa isyarat, juga berperilaku. Perilaku ini acapkali digunakan manusia untuk mengkomunikasikan sesuatu yang mengandung arti tertentu kepada orang lain.

Budaya menunjukkan bangsa, demikian kata pepatah. Budaya merupakan cara manusia hidup. Berkomunikasi, kegiatan ekonomi, politik, sosial, kebiasaan makan, penggunaan bahasa, persahabatan dan teknologi merupakan kegiatan berdasarkan pola-pola budaya. Budaya adalah suatu konsep yang membangkitkan minat, budaya didefenisikan secara formal sebagai tatanan pengetahuan, pengalaman, kepercayaan, nilai, sikap, makna, hirarkhi, agama, waktu, peranan, hubungan ruang dan konsep alam semesta.

Budaya dan komunikasi. Keanekaragaman budaya berpengaruh pula beranekaragamnya praktek-praktek komunikasi, karenanya maka budaya merupakan landasan berkomunikasi. Bagaikan ikan dengan air, budaya dan komunikasi tidak adapat dipisahkan, karena budaya selain menentukan siapa bicara dengan siapa, tentang apa ( message ) dan bagaimana orang menyandi  ( to code ) pesan, juga memberi makna pesan yang disampaikan dan kondisi pengiriman pesan serta cara memperhatikan dan menafsirkan pesan / informasi.

Komunikasi antar budaya lebih cenderung dikenal sebagai perbedaan budaya dalam mempersepsi obyek-obyek sosial dan kejadian-kejadian, di mana masalah-masalah kecil  dalam komunikasi sering diperumit oleh adanya perbedaan-perbedaan persepsi dalam memandang masalah itu sendiri. Dalam hal ini komunikasi antar budaya diharapkan berperan memperbanyak dan memperdalam persamaan dalam persepsi dan pengalaman seseorang. Namun demikian karakter budaya cenderung memperkenalkan kita kepada pengalaman – pengalaman yang berbeda sehingga membawa kita kepada persepsi yang berbeda-beda atas dunia eksternal kita.

Bahasa verbal maupun non verbal dalam komunikasi memang dapat dipelajari, namun tetap saja keterbatasan individual berperan dalam keberhasilan komunikasi antar budaya. Perbendaharaan kata, tata bahasa dan fasilitas verbal belum cukup.

Maka pemahaman dan penguasaan bahasa isyarat ( non verbal ) seperti : gerak-gerik anggota tubuh dan ekspresi wajah, maupun isyarat halus dari nada suara, kemungkinan akan ditafsirkan secara salah dan memungkinkan orang lain tersinggung perasaanya, tanpa kita tahu mengapa hal itu terjadi.

Pola komunikasi suatu masyarakat tertentu merupakan bagian dari keseluruhan pola budaya dan dapat dipelajari / dipahami dalam konteks bahwa pola-pola komunikasi yang menjadi pengamatan kita diseluruh dunia adalah kumpulan dari adat istiadat yang selama ini kita anggap sepele dan tidak berarti.

Pengaruh Faktor Budaya Dalam Berkomunikasi

Komunikasi pada dasarnya tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial budaya masyarakat penuturnya karena selain merupakan fenomena sosial, komunikasi juga merupakan fenomena budaya. Sebagai fenomena sosial, bahasa merupakan suatu bentuk perilaku sosial yang digunakan sebagai sarana komunikasi dengan melibatkan sekurang-kurangnya dua orang peserta. Oleh karena itu, berbagai faktor sosial yang berlaku dalam komunikasi, seperti hubungan peran di antara peserta komunikasi, tempat komunikasi berlangsung, tujuan komunikasi, situasi komunikasi, status sosial, pendidikan, usia, dan jenis kelamin peserta komunikasi, juga berpengaruh dalam penggunaan bahasa.

Sementara itu, sebagai fenomena budaya, komunikasi selain merupakan salah satu unsur budaya, juga merupakan sarana untuk mengekspresikan nilai-nilai budaya masyarakat penuturnya. Atas dasar itu, pemahaman terhadap unsur-unsur budaya suatu masyarakat–di samping terhadap berbagai unsur sosial yang telah disebutkan di atas–merupakan hal yang sangat penting dalam mempelajari suatu komunikasi. Hal yang sama berlaku pula bagi komunikasin di Indonesia. Oleh karena itu, mempelajari bahasa Indonesia–lebih-lebih lagi bagi para penutur asing–berarti pula mempelajari dan menghayati perilaku dan tata nilai sosial budaya yang berlaku dalam masyarakat Indonesia.

Kenyataan tersebut mengisyaratkan bahwa dalam pengajaran komunikasi, sudah semestinya pengajar tidak terjebak pada pengutamaan materi yang berkenaan dengan aspek-aspek kebahasaan semata, tanpa melibatkan berbagai aspek sosial budaya yang melatari penggunaan bahasa. Dalam hal ini, jika pengajaran bahasa itu hanya dititikberatkan pada penguasaan aspek-aspek kebahasaan semata, hasilnya tentu hanya akan melahirkan siswa yang mampu menguasai materi, tetapi tidak mampu berkomunikasi dalam situasi yang sebenarnya. Pengajaran bahasa yang demikian tentu tidak dapat dikatakan berhasil, lebih-lebih jika diukur dengan pendekatan komunikatif. Dengan perkataan lain, kemampuan berkomunikasi secara baik dan benar itu mensyaratkan adanya penguasaan terhadap aspek-aspek kebahasaan dan juga pengetahuan terhadap aspek-aspek sosial budaya yang menjadi konteks penggunaan komunikasi.

Fungsi Faktor Budaya Dalam Berkomunikasi

Fungsi pribadi adalah fungsi-fungsi komunikasi yang ditunjukkan melalui komunikasi yang bersumber dari seorang individu, antara lain untuk :

  1. Menyatakan identitas social

Dalam komunikasi,budaya dapat menunjukkan beberapa perilaku komunikan yang digunakan untuk menyatakan identitas diri maupun identitas sosial.

  • Menyatakan integrasi social

Inti konsep integrasi sosial adalah menerima kesatuan dan persatuan antar pribadi dan, antar kelompok namun tetap menghargai perbedaanperbedaan yang dimiliki oleh setiap unsur. Perlu dipahami bahwa salah satu tujuan komunikasi adalah memberikan makna yang sama atas pesan yang dibagi antara komunikator dan komunikan.

  • Menambah pengetahuan

Sering kali komunikasia antar bribadi maupun antar budaya dapat menambah pengetahuan bersama ,dan adanya saling mempelajari kubudayaan masing masing antara komunikator dan komunikan.

  • Melepaskan diri / jalan keluar

Hal yang sering kita lakukan dalam berkomunikasi dengan orang lain adalah untuk melepaskan diri atau mencari jalan keluar atas masalah yang sedang kita hadapi.

Faktor Penunjang Komunikasi Antarbudaya

Menurut Gerhard Malatzke komunikasi antarbudaya adalah proses pertukaran pikiran dan makna antara orang-orang berbeda budaya. Komunikasi antarbudaya pertama kali diperkenalkan oleh antropolog Edward Hall. Bidang ini sebenarnya bukan fenomena baru, komunikasi antarbudaya sudah ada sejak pertama kali orang-orang berbeda budaya saling bertemu dan berinteraksi, meskipun studi yang sistematik mengenai bidang ini baru dilakukan selama 30 tahun terakhir.

Ketika komunikasi terjadi antara orang-orang berbeda suku bangsa, kelompok ras, atau komunitas bahasa, maka komunikasi tersebut disebut komunikasi antarbudaya. Komunikasi antarbudaya pada dasarnya mengkaji bagaimana budaya berpengaruh terhadap aktivitas komunikasi, apa makna pesan verbal dan non verbal menurut budaya bersangkutan, apa yang layak dikomunikasikan, bagaimana cara mengkomunikasikan pesan-pesan tersebut.

Dengan mengetahul ciri dasar budaya dari tiap-tiap suku bangsa akan mengurangi keterkejutan budaya (gegar budaya), memberikan kepada kita wawasan terlebih dahulu dan memudahkan kita untuk berinteraksi dengan suku bangsa lain yang sebelumnya sulit kita lakukan. Dari interaksi ini selanjutnya akan cenderung terjadi relasi.

Sebenarnya keanekaragaman budaya bukanlah sesuatu yang akan hilang pada waktu mendatang yang memungkinkan kita merencanakan strategi berdasarkan asumsi saling memahami. Dari sini kemudian akan timbul empathy dari diri kita terhadap orang-orang dari suku bangsa lain. Adanya saling memahami dan pengertian di antara orang-orang berbeda budaya akan mengurangi konflik yang selama ini sering terjadi. Konflik biasanya terjadi karena berbedanya persepsi mengenai nilai- nilai antarbudaya.

Hal yang keramat bagi satu suku bangsa boleh jadi merupakan hal yang dianggap biasa bagi suku bangsa lainnya. Situasi seperti ini sebenarnya bisa dicari jalan keluarnya, yaitu dengan pemahaman, yang mendalam mengenai budaya lain dan tahu strategi pendekatannya. Agak sulit memang untuk memahami secara detail sebanyak 485 suku bangsa yang tersebar di pulau-pulau yang berbeda dan dibatasi oleh laut yang cukup luas. Tentu saja ini mempengaruhi pesan komunikasi yang hendak di sampaikan.

Tapi kita harus optimis mengenai perbedaan budaya di Indonesia. Karena pada dasarnya. hal itu merupakan salah satu kekayaan dari Negara Republik Indonesia, Dan ini adalah tantangan bagi kita, terutama bagi mereka yang berkecimpung dalam bidang ilmu komunikasi.

Hambatan Komunikasi Antar Budaya

Hambatan komunikasi atau yang juga dikenal sebagai communication barrier adalah segala sesuatu yang menjadi penghalang untuk terjadinya komunikasi yang efektif (Chaney & Martin, 2004, p. 11). Contoh dari hambatan komunikasi antabudaya adalah kasus anggukan kepala, dimana di Amerika Serikat anggukan kepala mempunyai arti bahwa orang tersebut mengerti sedangkan di Jepang anggukan kepala tidak berarti seseorang setuju melainkan hanya berarti bahwa orang tersebut mendengarkan. Dengan memahami mengenai komunikasi antar budaya maka hambatan komunikasi (communication barrier) semacam ini dapat kita lalui.

Jenis-Jenis Hambatan Komunikasi Antar Budaya

Hambatan komunikasi (communication barrier) dalam komunikasi antar budaya (intercultural communication) mempunyai bentuk seperti sebuah gunung es yang terbenam di dalam air. Dimana hambatan komunikasi yang ada terbagi dua menjadi yang diatas air (above waterline) dan dibawah air (below waterline). Faktor-faktor hambatan komunikasi antar budaya yang berada dibawah air (below waterline) adalah faktor-faktor yang membentuk perilaku atau sikap seseorang, hambatan semacam ini cukup sulit untuk dilihat atau diperhatikan. Jenis-jenis hambatan semacam ini adalah persepsi (perceptions), norma (norms), stereotip (stereotypes), filosofi bisnis (business philosophy), aturan (rules),jaringan (networks), nilai (values), dan grup cabang (subcultures group).

Sedangkan terdapat 9 (sembilan) jenis hambatan komunikasi antar budaya yang berada diatas air (above waterline). Hambatan komunikasi semacam ini lebih mudah untuk dilihat karena hambatan-hambatan ini banyak yang berbentuk fisik.

Hambatan-hambatan tersebut adalah (Chaney & Martin, 2004, p. 11 – 12):

  • Fisik (Physical)

Hambatan komunikasi semacam ini berasal dari hambatan waktu, lingkungan, kebutuhan diri, dan juga media fisik.

  • Budaya (Cultural)

Hambatan ini berasal dari etnik yang berbeda, agama, dan juga perbedaan sosial yang ada antara budaya yang satu dengan yang lainnya.

  • Persepsi (Perceptual)

Jenis hambatan ini muncul dikarenakan setiap orang memiliki persepsi yang berbeda-beda mengenai suatu hal. Sehingga untuk mengartikan sesuatu setiap budaya akan mempunyai pemikiran yang berbeda-beda.

  • Motivasi (Motivational)

Hambatan semacam ini berkaitan dengan tingkat motivasi dari pendengar, maksudnya adalah apakah pendengar yang menerima pesan ingin menerima pesan tersebut atau apakah pendengar tersebut sedang malas dan tidak punya motivasi sehingga dapat menjadi hambatan komunikasi.

  • Pengalaman (Experiantial)

Experiental adalah jenis hambatan yang terjadi karena setiap individu tidak memiliki pengalaman hidup yang sama sehingga setiap individu mempunyai persepsi dan juga konsep yang berbeda-beda dalam melihat sesuatu.

  • Emosi (Emotional)

Hal ini berkaitan dengan emosi atau perasaan pribadi dari pendengar. Apabila emosi pendengar sedang buruk maka hambatan komunikasi yang terjadi akan semakin besar dan sulit untuk dilalui.

  • Bahasa (Linguistic)

Hambatan komunikasi yang berikut ini terjadi apabila pengirim pesan (sender)dan penerima pesan (receiver) menggunakan bahasa yang berbeda atau penggunaan kata-kata yang tidak dimengerti oleh penerima pesan.

  • Nonverbal

Hambatan nonverbal adalah hambatan komunikasi yang tidak berbentuk kata-kata tetapi dapat menjadi hambatan komunikasi. Contohnya adalah wajah marah yang dibuat oleh penerima pesan (receiver) ketika pengirim pesan (sender) melakukan komunikasi. Wajah marah yang dibuat tersebut dapat menjadi penghambat komunikasi karena mungkin saja pengirim pesan akan merasa tidak maksimal atau takut untuk mengirimkan pesan kepada penerima pesan.

  • Kompetisi (Competition)

Hambatan semacam ini muncul apabila penerima pesan sedang melakukan kegiatan lain sambil mendengarkan. Contohnya adalah menerima telepon selular sambil menyetir, karena melakukan 2 (dua) kegiatan sekaligus maka penerima pesan tidak akan mendengarkan pesan yang disampaikan melalui telepon selularnya secara maksimal.

2.3        AIRBRUSH

Prasejarah

Pada zaman pra sejarah manusia mulai mengolah rasa estetikanya dengan lukisan/gambar pada alat rumah tangga mereka. Begitu juga pada batu dan dinding gua. Mereka berusaha menceritakan pemahaman tentang manusia, hewan, dan tumbuhan melalui dinding gua. Di argentina didalam gua Pinturas River region Patagonia terdapat lukisan dinding yang menjadi cikal bakal teknik airbrush. Airbrush sederhana ini dilakukan dengan tulang hewan untuk menyemburkan  pewarna yang disimpan di dalam mulutnya dan telapak tangan mereka sebagai malnya.

Temuan pertama, 1879

Dalam catatan sejarah  seni lukis modern, airbrush baru berkembang pada akhir abad ke-19. tahun 1879 dikenal sebagi tahun penemuan teknik melukis dengan memanfaatkan tekanan angina yang kini dikenal dengan airbrush. Alat yang digunakan untuk mentransfer cat ke media lukis awalnya disebut paint distributor. Orang yang berjasa menemukan alat ini adalah Abner Peeler, seorang penemu professional yang sepanjang hidupnya melakukan berbagai percobaan. Kemudian Peeler menjual patennya kepada Lyberty Walkup dari perusahaan Walkup brothers pada bulan Agustus 1883.

Ketika di Indianapolis dilakukan kovensi fotografi, paint distributor terjual sebanyak 63 unit pada 1883, Lyberty Walkup mendirikan sebuah pabrik yang dinamakan Airbrush Manufacturing  Company di Rockford, Illinois.  Saat itu pula istilah airbrush diperkenalkan kepada umum. Alat ini banyak digunakan untuk keperluan foto retouching. Sukses Walkup  memicu banyak orang meniru langkahnya.

Temuan kedua, 1893

Charles L. Burdick, seorang seniman Amerika yang tinggal di Chicago  menemukan pen bertipe internal mix airbrush. Setelah mennemukan alat ini, pada tahun 1893 ia pindah ke inggris untuk mendirikan Fountain Brush Company. Burdick orang yang berjasa dalam memodifikasi alat ciptaan Peeler sehingga menjadi alat yang mudah  digunakan karena bentuknya menyerupai pena. Ia memperkenalkan sekaligus mematenkan temuannya yakni needle control system atau system control pengeluaran cat dengan sebatang jarum.

Kedudukan airbrush dalam seni, 1900-an

Pada tahun 1970, Oxford Univesity menerbitkan sebuah kamus The Oxford Companion to Art. Kamus berisi 3000 entri dengan 1200 halaman. Pada halaman 169,  80 baris membahas tentang brush yang merupakan kuas sebagai alat untuk melukis. Pada bagian itupun  disebutkan mengenai kata airbrush yang artinya sebuah alat yang biasanya digunakan oleh seniman komersial dengan cara menyemprotkan cat atau varnish dengan bantuan tekanan angin. Semprotan alat tersebut bisa diapliksikan pada lahan gambar yang lebih luas, membuat gradasi warna atau menciptakan kualitas garis yang halus. Edisi terakhir kamus tersebut diterbitkan tahun 1984, keterlambatan penerbitan kamus tersebut menyebabkan salah pengertian terhadap airbursh dan fungsinya sebagi salah satu instrument seni lukis. Namun alat ini masih belum mendapat pengakuan oleh dunia seni. Chales L. Budrick adalah orang pertama yang mendapatkan masalah tentang pengakuan dunia seni terhadap airbrush meskipun dia bukan orang terakhir dengan masalah tersebut.

The Royal Academy of Art menolak karya cat air untuk pameran tahunannya karena dibuat menggunakan airbrush. karyanya dianggap kehilangan mutu artistik karena dibuat dengan alat mekanik. Man Ray juga mengalami nasib yang tidak baik dengan karya airbrushnya. Seorang pelukis Amerika, guru gambar, pematung, fotografer, dan pembuat film yang lahir pada tahun 1890 di philadelphia ini dikenal juga sebagai salah satu pelopor gerakan Dadaisme, Surealisme dan Pop Art. Di tahun 1918 selalu mencari sesuatu yang baru –“dan menemukannya,”kata Picasso- Man Ray mengangkat  airbrush ke permukaan dengan seni lukisannya yang dipamerkan di Paris dengan judul “First Object Aerated”. Tapi pameran dinyatakan gagal dan penuh kritik sampai-sampai Ray dituduh melakukan kriminalitas terhadap dunia seni dengan alat mekaniknya itu. Airbrush makin tak mendapat tempat di seni murni dan akhirnya airbrush harus menyerahkan dirinya pada seni komersial.

Era Pop Art,1960

Lalu airbrush sering digunakan untuk membuat pin-ups, mock up, photo retouching, poster, dan illustrasi iklan. Namun pada 1960-an karya-karya Pop Art mulai dilirik oleh berbagai perusahaan sebagai inspirasi iklan mereka. Teknik airbrush menjadi solusi yang tepat untuk mengolah ulang gambar karya-karya tersebut. Merlin Monroe dan kaleng sup Campbell-nya Warhol, komik vignette karya Lichtenstein, karya nude dari Wesselmann, dan berbagai karya Pop yang dibuat dengan media cat minyak, acrylic, enamel, serigraph dan tentu saja airbrush. Seniman Pop Art yang menggunakan airbrush untuk media berkaryanya adalah Peter Phillip dan Allen Jones.

Airbrush kian mendapat tempat dalam kaidah seni murni dengan hadirnya photorealism. Gerakan ini pertama kali dimulai di  Guggenheim Museum’s landmark yang menggelar The Photographic Image di New York. Karya-karya yang dipajang rata-rata berukuran besar dan dilukis dengan absolute realis. Semua karya yang muncul mengunguli foto dengan kualitas yang tajam, menggarap detail dari mobil dan motor, interior, urban landscape dengan sangat detail diatas neon sign. Pameran berikutnya di adakan di Paris Bienal pada tahun 1972, menampilkan bentuk baru medium eksperi artistik: Hyperrealism, atau melampau batas realilsm. Tentu saja airbrush adalah medium yang cocok untuk mencapai bentuk ini.

Hyperrealism akhirnya membuat airbrush mendapat tempat dalam dunia seni murni. Sekarang airbrush diakui sebagai alat atau yang bisa digunakan oleh para seniman dalam berkarya. Mereka sadar akan karakteristik yang diciptakan airbrush dan menggunakannya untuk mengeksekusi karya mereka. Namun keberhasilan ini harus tetep dijaga dengan mengesplor terus teknik-teknik yang bisa dicapai oleh airbrush dan dengan menghasilkan karya-karya yang dasyat.

Airbrush Indonesia

Di tanah air, masuknya airbrush bersamaan dengan masuknya seniman dari Belanda selama penjajahan meskipun belum ada data yang akurat mengenai hal itu. Pada awal 90-an airbrush mulai popular di Indonesia khususnya di kota-kota besar seperti Jakarta. Bandung, Jogya, dan Surabaya. Kepopularan ini dimulai dengan meningkatnya hobi para modifikator otomotif yang mulai mengeksplorasi tampilan cat bodi pada kendaraan. Scooter lah yang paling sering kita dengar dan lihat  hadir dengan gambar-gambar di sekujur body montoknya. Hubungan modifikasi motor-mobil dan airbrush menjadi erat. Hal ini membuktikan bahwa kebutuhan seni di masyarakat telah merambah ke area otomotif. Mereka merasa perlu menambahkan sentuhan artistic pada tunggangan mereka selain memodifikasi bentuk dan mesin.

Walau sebagian besar masyarakat Indonesia  mengenal airbrush melalui perkembangan dunia modifikasi otomotif , airbrush sesungguhnya telah digunakan di Indonesia jauh sebelum itu. Banyak kebutuhan iklan di tanah air yang dibuat dengan alat ini, begitu pula dalam pengkoreksian foto-foto, dan yang mungkin jarang kita perhatikan yaitu airbursh digunakan dalam produksi masal di pabrik- pabrik untuk pengecetan mobil, motor, mainan, dll.

Dari data didapat oleh penulis tersebut nama-nama seperti Jhony le Purnomo dengan Custom worldnya jakarta, Udi budi dari Potlot airbrush jogya.

BAB III

PEMBAHASAN

3.1 PENYUSUNAN PROGRAM

Program kegiatan pelatihan airbrush ini dilakukan melalui beberapa tahapan sebagai perincian uraian kegiatan pelaksanaan program pelatihan. Tahapan-tahapan pelaksanaan program tersebut terdiri dari :

1.   Perencanaan

  • Identifikasi Kebutuhan
  • Perumusan Kebutuhan
  • Penentuan Program Pelatihan
  • Menentukan Sasaran
  • Menentukan Narasumber
  • Menentukan Tempat Pelaksanaan
  • Pendanaan

2.   Persiapan

  • Menyiapkan Materi Pelatihan
  • Mencari Narasumber
  • Menyiapkan Media Pelatihan
  • Perekrutan Peserta

3.   Pelaksanaan

  • Pemberian Materi
  • Praktek Teknik Aibrush
  • Evaluasi Peserta Pelatihan

4.   Evaluasi

Evaluasi dilakukan dengan dua (2) jenis, yaitu :

  • Tes
  • Non Tes

MATRIK RENCANA KERJA

No KEGIATAN NOVEMBER DESEMBER KET
1 2 3 4 1 2 3 4
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11)
1 Perencanaan
Identifikasi Kebutuhan X
Perumusan Kebutuhan X
Penentuan Program Pelatihan X
Menentukan Sasaran X
Menentukan Narasumber X
Menentukan Tempat Pelaksanaan X
Pendanaan X X X X
2 Persiapan
Menyiapkan Materi Pelatihan X X
Mencari Narasumber X X
Menyiapkan Media Pelatihan X X
Perekrutan Peserta X X
3 Pelaksanaan
Pemberian Materi X
Praktek Teknik Aibrush X X X
Evaluasi Peserta Pelatihan X
4 Evaluasi
Tes X
Non Tes X

3.2 PROSES

UNIT PROGRAM

Nama Program              :  Pelatihan Airbrush.

Bentuk Program             :  Pelatihan.

Sasaran                              :  Orang Daerah yang tinggal di Jakarta terutama di Kelurahan Duren

Sawit.

Tujuan                                :  Untuk memberikan life skill kepada tuna karya.

Pertemuan                        :  Dilakukan  selama 8 kali Pertemuan.

Alokasi waktu                   :  120 menit.

Standar kompetensi       :  Peserta dapat mengaplikasi proses teknik sablon atau airbrush

sesuai dengan pelatihan yang diikuti oleh pemuda tersebut dengan beberapa eksplorasi media yang digunakan.

Kompetensi dasar            : Peserta dapat bereksplorasi dengan mengunakan teknik airbrush sebagai dasar dalam pencapainya.

Penerapan dari pelatihan dapat sebagai media seni murni ataupun terapan (dalam hal ini berwirausaha).

Kegiatan pembelajaran

Kegiatan awal                    :  Fasilitator membuka pertemuan.

Kegiatan inti                      :  Pengenalan airbrush (sejarah, perkembangannya, cara kerja, alat

dan bahan).

Free test (praktek mengenal alat dan cara kerja).

Objek I (mengambar objek sederhana teknik freehand dan mal).

Lettering (membuat huruf).

Objek II (membuat gambar dengan empat warna lebih).

T-shirt airbrushing.

Otomotif airbrushing (mengambar diatas media helm).

Tugas akhir.

Kegiatan penutup               : Fasilitator mengulas kembali materi pertemuan.

Fasilitator membuat kesimpulan pertemuan.

Fasilitator menutup pertemuan.

Metode pembelajaran        : Ceramah

Demonstrasi

Praktek

Sarana dan media                 : Kertas Plano

Pembelajaran                          :  Leafleat dan Pamflet

Modul

Spidol

Penghapus

Helm

T-shirt

Evaluasi                        :  Tes

Non tes

3.3 TINDAK LANJUT

Program pelatihan airbrush memiliki tindak lanjut sebagai salah satu rencana untuk melihat tingkat keberhasil berdasarkan indikator keberhasilan yang telah di rencanakan sebelumnya. Tindak lanjut dari program kegiatan ini adalah dengan peserta membuat hasil karya dan dapat djual. Sehingga mereka benar-benar dapat dikatakan berhasil dalam program pelatihan. Maksud dari tindak lanjut ini adalah sebagai langkah dalam memberikan kemampuan life skill bagi tuna karya atau pengganguran.

BAB IV

PENUTUP

KESIMPULAN

Proses pembagunan nasional baiknya didukung dengan SDM yang berkualitas dan produktif. Tuna karya atau pengganguran dapat diartikan sebagai penghambatan pembangunan, baik dilihat dari GNP (Gross National Product) pada suatu negara ataupun sebagai beban negara dalam hal permasalahan sosial yang jika diteliti matang-matang akan menghambat produktivitas pembangunan nasional.

Pelatihan sebagai salah satu alternatif untuk mengurangi jumlah angka tuna karya. Caranya dengan mereka memiliki kemampuan keterampilan atau life skill yang produktif setidak-tidaknya dapat menekan jumlah angka pengganguran. Dengan kata lain dapat membantu percepatan pembangunan nasional. Diharapkan dari pelatihan dapat mengembangkan kemampuan sehingga dapat menghasilkan sebuah karya yang memiliki nilai jual. Dengan demikian, sedikit demi sedikit permasalahan sosial mengenai tuna karya dapat teratasi.

Rekomendasi

Dalam pelaksanaan program pelatihan baiknya disesuai dengan kebutuhan yang memang real sedang masyarakat rasakan. Dapat dikatakan kebutuhan tersebut memang berkaitan dengan kelangsungan hidup mereka. Setelah program pelatihan terlaksana baiknya diadakan peninjauan kembali mengenai efisiensi dan efektifitas dari program pelatihan tesebut. Apakah benar-benar bermanfaat ataukah hanya menghambur-hamburkan dana. Apalagi pada zaman saat ini yang sedang terkena imbas dari krisis global. Selain itu, perlu juga diadakan monitoring dan supervisi sekaligus diadakan evaluasi progam. Sehingga program pelatihan yang diadakan memiliki dampak yang positif.

DAFTAR PUSTAKA

Mulysa E, KTSP. 2006. Bandung : Rosdakarya.

Muslich Masnur, KTSP Dasar Pemahaman Dan Pengembangan. 2007. Jakrta : Bumi Aksara.

GNOTHI SEAUTHON.htm

9 Jenis Kecerdasan Ganda « Aries354’s Weblog.htm

Drssuharto’s Weblog.htm optimalisasi-kecerdasan-ganda-dalam-era-informasi-dan globalisasi.html

Azhari, Ahmad: Supervisi Rencana Program Pembelajaran. Rian putra 2005

www.P2KP.org

http://Rudianto. Rafi. Blogspot.com

http: //selatan. Jakarta.go.id

Tim Penyusun Yapika, Monitoring dan Evaluasi sebagai Media Belajar Bersama dan Pengalaman. Jakarta: Yapika.

http://rudianto.rafi.blogspot.com

Pidarta, Made. 1992. Pemikiran Tentang Supervisi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Purwanto, Ngalim.2003. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung: Rosdakarya

Dr. Soekartawi.1995. Monitoring dan Evaluasi Proyek Pendidikan. Malang : Dunia Pustaka Jaya.

Ali Imron. (1996). Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: Pustaka Jaya.

www. google.co.id

Penulis:

You may plan but God who determines.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s