Pelatihan Tie-Dye PLS UNJ


Sekilas Tentang Tie-Dye

Tie-dye merupakan salah satu bentuk seni tekstil warisan kaum Hippies alias Flower Generation, yang tumbuh di akhir 1960-an dan awal 1970 sebagai bagian dari gaya hippie di Amerika. Sebutan tie-dye diambil dari kosakata bahasa Inggris yang artinya ikat dan celup. Motif biasanya diaplikasikan kepada kaos mereka biar lebih warna-warni dan mendapatkan motif yang lebih trippy.

Tiap negara mempunyai motif dan teknik tie dye, hanya penyebutannya saja yang berbeda. Di Jepang, tie dye diaplikasikan pada pakaian tradisional Kimono. Teknik pewarnannya dikenal dengan sebutan Shibori yang merupakan teknik tua karena telah ditemukan ribuan tahun lalu

Tetapi Tie dye paling tua diyakini berasal dari Peru sekitar tahun 500-800 Masehi. Baik desain maupun warna-warna yang digunakan identik dengan tie dye masa kini. Motifnya berupa bulat-bulat kecil dan bergaris dengan warna cerah seperti merah, kuning, biru, dan hijau. Di negara-negara Afrika Barat teknik tie dye disebut Indigo dye yang dimodikasi dengan sulam tradisional Afrika. Teknik semacam ini terdapat di sekitar Kano dan Nigeria. Di India, tie dye dikenal dengan sebutan Bandha. Negeri gajah putih Thailand juga punya istilah tersendiri. Mudmee tie dye namanya. Corak tradisional Thailand ini dibuat dari sutra mudmee dengan motif dan pola yang unik. Ciri khas busana ini adalah pengunaan warna hitam sebagai warna dasar. Dalam hal bentuk, Mudmee tie dye cenderung berukuran besar.

Sementara di negara kita sendiri tie dye disebut dengan istilah jumputan atau tritik yang diambil dari bahasa Jawa. Setiap daerah di Indonesia memiliki nama yang berbeda-beda. Di Palembang disebut Pelangi atau Cinde, di Banjarmasin disebut Sasarengan. Dalam celup ikat, penggunaan kain-kain dari serat yang berbeda dapat memberikan hasil yang berbeda pula. Kain yang tipis dapat diikat dengan simpul-simpul kecil, sehingga ragam hias yang terbentuk juga lebih padat dan banyak. Makin tebal kain yang digunakan, maka sedikit pula jumlah ikatan yang bisa dibuat, karena simpul akan menjadi terlalu besar dan sulit untuk dikencangkan rapat-rapat. Akibatnya zat pewarna dapat dengan mudah merembes masuk dan menghilangkan corak yang ingin ditampilkan. Oleh karenanya kain-kain yang tebal biasanya menampilkan corak yang besar pula.

Ada berbagai jenis kain yang baik dan banyak digunakan dalam teknik celup ikat, yaitu kain katun dan sutera. Kedua jenis kain ini dengan kemampuan daya serapnya, memudahkan proses pengikatan dan pencelupan. Sementara beberapa jenis kain lainnya, seperti dari bahan rayon atau kain sintetis lainnya, proses celup ikat agak sulit dilakukan karena sifat kain yang terlalu licin, atau keras atau kurang memiliki daya serap.

Banyaknya celupan dan lamanya setiap perendaman tergantung pada hasil warna yang diinginkan. Setelah pencelupan selesai, kain digantung atau ditiskan sebentar agar tetesan cairan pewarna habis. Kemudian ikatan dibuka dan kain dibentang, maka akan terlihat corak-corak yang terbentuk akibat ikatan yang merintanginya dari pewarnaan. Warna dari corak-corak ini memiliki gradasi warna sesuai dengan rembesan cairan pewarna saat pencelupan.

Celup ikat mengenal beberapa variasi ikatan dan akan terus berkembang sesuai dengan kreativitas para pembuatnya. Wujud keindahan dari kain celup ikat pada dasarnya tidak berasal dari jumlah ikatan yang dibuat, tetapi lebih pada paduan jenis-jenis corak hasil ikatan dengan warna yang digunakan serta keselarasannya secara keseluruhan dalam sehelai kain. Banyak macam corak yang dapat dihasilkan dari teknik dari cara melipat, jerat atau simpul, dan ikatan yang berbeda-beda. Secara umum corak celup ikat dapat dibagi dalam lima jenis, yaitu ragam hias penuh, jelujur, lubang, lompatan, dan bungkusan. Masing-masing menggunakan teknik ikat yang berbeda.

Seiring dengan perkembangan fashion, tie dye tidak hanya diaplikasikan ke pakaian saja. Sekarang, motif tie dye juga bisa dijumpai di tas dan sepatu, atasan tunik gombrong, sarung, topi, ikat kepala, kemeja, bahkan celana.

Tie Dye mulai dilirik lagi lantaran kesan vintage-nya emang kuat. Kaos tie-dye bisa ditemukan di distro-distro favorit. Tapi kalo lagi nggak ada kerjaan dan pengen menguji kreativitas, silahkan coba bikin sendiri. Yukss ikuti langkah mudah di bawah ini.

Alat dan Bahan :

  1. Kaos berbahan Katun
  2. Pewarna Garmen :
  • Napthol jenis AS, AS-G, dan AS-OL
  • Garam Diazo / Garam Warna
  • Soda Costik
  1. Sarung Tangan Karet
  2. Karet Gelang / Tali Rapiah
  3. Wadah (Baskom, Ember, dll)
  4. Air
  5. Sendok
  6. Gunting
  7. Benang

10.  Jarum

11.  Pensil

12.  Kelereng

Cara Membuat :

  1. Rendam kaos katun dalam air lalu tiriskan hingga air yang menetes pada kaos habis. Biarkan Lembab.
  2. Sementara menunggu kaos atus/sampai air tidak ada yang menetes, larutkan 2 gr Napthol dan 1 gr Soda Costik (NaoH) ke dalam sedikit air panas. Fungsi air panas hanya untuk melarutkan kedua bahan tersebut. Kemudian tambahkan air dingin dengan perbandingan 3 gr larutan Napthol dan Soda Costik dengan 1 Liter Air . Lalu tiriskan.
  3. Larutkan Garam Diazo (Garam Pembangkit  Warna) kedalam air. Lalu tiriskan.
  4. Letakkan kaos basah di tempatnya secara mendatar (boleh meja kayu)
  5. Untuk Teknik Jumputan, ambil bagian tengah kaos,,angkat,,kemudian Ikat kaos pada beberapa bagian dengan tali rapiah atau karet gelang.
  6. Untuk Teknik Spiral,,ambil bagian tengah / pinggir kaos,,kemudian putar hingga membentuk spiral. Ikat beberapa sisinya dengan karet.
  7. Celupkan kaos yang sudah atus ke dalam Napthol. Usahakan agar seluruh kaos  terendam, kemudian angkat sampai air yang menetes pada kaos habis.
  8. Setelah kaos sudah atus,, celupkan kaos ke dalam garam warna sambil dibolak-balik agar warna merata dan meresap pada bahan kaos,, kurang lebih 2-3 menit. Setelah itu warna akan muncul.
  9. Untuk pemberian warna ke-2,,celupkan dahulu kedalam air,,baru ke napthol,,kemudian ke garam warna. Fungsi pencelupan kedalam air ialah agar warna pertama tidak tercampur ke warna berikutnya. Karena air berfungsi sebagai penetralisir atau pemati warna.

10.  Lepaskan semua ikatan karet kemudian keringkan tetapi jangan dibawah sinar matahari langsung.

Langkah Mudahnya Proses 3 Warna:

Misalnya Warna Merah,,Ungu,,Kuning

Kaos dicelup ke dalam Air

Kaos dicelup ke Larutan Napthol jenis AS

Kaos dicelup ke Garam Warna Scarlet R (Hasilnya Warna Merah)

Kaos dicelup ke dalam Air

Kaos dicelup ke Larutan Napthol jenis As

Kaos dicelup ke Garam Warna Bordo  GP (Hasilnya Warna Ungu)

Kaos dicelup ke dalam Air

Kaos dicelup ke Larutan Napthol jenis ASG

Kaos dicelup ke Garam Warna Scarlet  R (Hasilnya Warna Kuning)

Keterangan  HasiL  Pewarnaan

Garam  Warna Napthol Hasil Warna
Scarlet  R AS

ASG

AS-OL

Merah

Kuning

Merah-Orange

Bordo  GP AS-OL

ASG

AS

Ungu

Kuning

Ungu

Yang perlu diingat,

  • Jangan lupa menggunakan sarung tangan karena pewarna bisa menimbulkan iritasi pada kulit.
  • Jika Ingin 3 warna,,sebaiknya celup warna yang paling tua dahulu agar warna yang muda tidak tertutup oleh warna tua.

Setelah semua proses di atas selesai, motif tie dye hasil kreasimu sendiri sudah siap untuk dipamerkan.

S e l a m a t   M e n c o b a

Rincian  Biaya

Alat Harga @

Jumlah

Kaos / Tas Polos Rp.  12.500 12 Rp.  150.000
Pewarna Garmen 1 paket Rp.  120.000
Sarung Tangan Karet Rp.   1.500 12 Rp.    18.000
Baskom / Ember Rp.   8.000 10 Rp.    80.000
Karet Gelang Rp.   3.000 1 Rp.      3.000
Tali Rp.   1.000 1 Rp.      1.000
Kelereng Rp.      500 4 Rp.      2.000
Jarum Rp.   1.000 1 Rp.      1.000
Benang Rp.   1.000 1 Rp.      1.000
Jumlah

Rp.  376.000

Penulis:

You may plan but God who determines.

2 thoughts on “Pelatihan Tie-Dye PLS UNJ

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s